Zenium dot ID
– Belum lama ini beredar kabar tentang pengakuan seorang artis sirkus yang menyatakan dirinya diperlakukan dengan kekerasan oleh sang pemilik.
Para pemain sirkus tidak hanya mengalami siksaan biasa, tetapi malah menerima perlakuan yang sangat keras.
Karena alasan tersebut, pada suatu kesempatan sebelumnya, Fifi dan Butet mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan yang mereka hadapi kepada Deputi Menteri selama rapat di Kementerian HAM.
Fifi dan Butet mengungkapkan pengalaman mereka sebagai pesulap di sirkus dan bagaimana mereka merasakan perlakuan yang keras.
Fifi, seorang mantan pesulap dari sirkus Oriental Circus Indonesia (OCI), mengungkapkan cerita pahit yang dialaminya sendiri.
Pada pengaduannya, Fifi menyatakan bahwa dia menerima perlakukan keras saat menjadi bagian dari tim pemain sirkus OCI yang tampil di beberapa lokasi, salah satunya adalah di Taman Safari Indonesia.
“Saat itu saya pernah dicekal dan dipenjarakan dalam sangkar harimau, merasa kesulitan untuk BAB. Tubuhku tak mampu menahan lebih lama, jadi aku memilih kabur melewati hutan pada tengah malam, berakhir di Cisarua. Saat itu pun sempat dibantu oleh penduduk setempat, tetapi sayangnya aku kemudian berhasil diamankan lagi,” cerita Fifi sambil menghadap kepada Wakil Menteri HAM Mugiyato, seperti dilansir dari Kompas.com via TribunNewsBogor Jumat (18/4/2025) yang diringkas oleh ZeniumdotID.
Setelah dijumpai kembali, Fifi kemudian mengalami tortur sekali lagi.
“Saya ditelanjangi, dibawa kerumah, dan kemudian dilempar petir. Alat vitalku dilempar petir hingga aku pingsan. Rambutku dicabuti, aku buang air kecil dimana-mana, selanjutnya aku digembok,” tuturnya.
Mirip seperti Fifi, Butet juga menyatakan bahwa dia kerap menerima perlakuan keras.
“Jika penampilan selama pertunjukan kurang baik, saya akan ditampar. Saya pernah digiring dengan rantai besar terikat pada kaki sehingga sulit untuk bergerak, termasuk ketika ingin membuang air,” ungkap Butet.
Meski demikian, Butet pun masih diharuskan untuk tampil saat ia tengah hamil.
Sesudah bersalin, dia lantas dijauhkan dari bayi tersebut.
“Butet menceritakan bahwa saat dia sedang hamil, dia masih dipaksakan untuk tampil. Dia bahkan harus berpisah dengan bayinya setelah melahirkan dan tak dapat memberikan ASI. Menurutnya, hal yang lebih buruk lagi terjadi; ia pernah diminta memakan kotoran gajih cuma karena tertangkap basah mencuri empal,” tuturnya sembari menahan air mata.
Sedihnya lagi, kedua orang tersebut sama sekali tidak menyadari tentang asal-usul dan keluarga biologis mereka.
Ini terjadi karena Fifi dan Butet telah dibesarkan sebagai pemain sirkus sejak usia muda.
Fifi juga mengakui tidak mengetahui tentang ibunya yang sebenarnya, hingga pada akhirnya dia baru sadar bahwa Butet adalah ibu kandungnya.
Dia baru menyadari hal itu saat telah tumbuh menjadi orang dewasa.
Butet menyatakan bahwasanya dia memberikan Fifi kepada orang lain untuk dididik lantaran belum mampu menciptakan kemandirian hidup yang baik.
Namun Butet juga menyatakan bahwa dalam hidupnya dia tak pernah tahu tentang identitas sebenarnya, termasuk namanya, latar belakang keluarganya, serta berapa umurnya, karena telah dibesarkan menjadi seorang pesulap di sirkus semenjak masih anak-anak.
Klarifikasi Taman Safari
Pada saat yang sama, keluhan dari seorang bekas pesulap akhirnya mendapat respon dari pihak Taman Safari.
Manajemen Taman Safari Indonesia menyebutkan bahwa permasalahan itu terkait dengan beberapa orang spesifik.
Dia menegaskan bahwa mereka tidak punya ikatan bisnis dengan mantan anggota sirkus itu.
“Taman Safari Indonesia Grup sebagaimana perusahaan mengingatkan bahwa kita tidak mempunyai ikatan, jalinan bisnis, atau partisipasi hukum dengan mantan pesulap sirkus yang dimaksud dalam kliping video itu,” ungkap Manajemen Taman Safari Indonesia melalui rilisan formal.
Manajemen Taman Safari Indonesia menyatakan bahwa mereka adalah entitas bisnis legal yang didirikan secara mandiri dan tidak memiliki koneksi dengan pihak tertentu tersebut.
“Timbulnya masalah itu dianggap bersifat personal dan tak berhubungan langsung dengan institusi Grup Taman Safari Indonesia,” tambah Management dari Taman Safari Indonesia.
Manajemen Taman Safari Indonesia mengklaim bahwa setiap orang memiliki hak untuk menceritakan kisah personal mereka.
Namun, pihak manajemen Taman Safari Indonesia menginginkan agar nama serta reputasi dari kelompok Taman Safari Indonesia tidak dikait-kaitkan dengan masalah tersebut.
“Manajemen Taman Safari Indonesia menyatakan bahwa mereka komited dalam melaksanakan operasi bisnis dengan menekankan pada asas Tata Kelola Perusahaan yang Baik (TKPB), taat terhadap peraturan-peraturan dan juga mempraktikkan etika bisnis yang bertanggung jawab,” ungkapnya.
” Kami menyarankan kepada publik agar bertindak secara rasional ketika memandangi data yang tersebar di dunia maya dan mencoba sebisa mungkin untuk tidak gampang dipengaruhi oleh materi yang tak berkutat pada kebenaran atau hubungan yang logis,” imbuhnya.
Leave a Comment