
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menciptakan kehebohan di tingkat global dengan meningkatkan tarif impor dari Cina sebesar 245%, meskipun sebelumnya ketegangan dalam perang perdagangan antara AS dan Cina telah mereda.
Trump sebelumnya menyampaikan keinginannya untuk mencapai suatu perjanjian dengan Negara itu, sehingga ia berharap pihak China akan cepat-cepat membuka pembicaraan dengannya.
Mantan Presiden AS Donald Trump menyuarakan kritikan tajam lagi terhadap China saat berbincang dengan Fox News. Dia menuduh China sudah sejak lama memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan di atas kerugian Amerika Serikat melalui cara-cara yang ia anggap tak adil.
Trump mengisyaratkan masih adanya kemungkinan mencapai perjanjian perdagangan, walaupun dia tetap menekankan ketidakseimbangan dalam hubungan ekonomi antar kedua negara tersebut.
“Negara kita sudah dimanfaatkan oleh mereka selama periode yang sangat panjang, bahkan mereka telah melakukan penipuan pada kita dengan metode yang sungguh luar biasa, hingga sulit untuk dipercaya bahwa hal ini dapat berlangsung,” katanya seperti dilansir dari YouTube Fox News, Jumat (11/4).
Trump juga menyatakan memiliki hubungan yang positif dengan Presiden Xi Jinping sepanjang waktu ini. Ia percaya akan menemukan suatu perjanjian di antara kedua negara tersebut.
Pada era perdagangan yang konfrontatif tersebut, Trump mengimplementasikan bea sebesar 20% terhadap Cina saat baru memulai masa jabatannya sebagai presiden Amerika Serikat. Selanjutnya, pada hari Rabu (3/4), disertakan pula tambahan tarif senilai 34%, yang berlaku untuk beberapa negara seperti Indonesia.

Akan tetapi, China tidak berniat untuk berunding. Mereka merespons dengan pemberian tariff sebesar 34% kepada seluruh barang-barang dari Amerika Serikat. Langkah tersebut kemudian ditanggapi oleh Trump dengan penambahan tariff senilai 50% terhadap Cina. Namun demikian, China enggan menyerah dan menjawabnya dengan tambahan tariff hingga mencapai angka 84%.
Pada akhirnya, ketika Trump mengumumkan peningkatan tariff terhadap 75 negara akan ditahan hingga 90 hari mulai Rabu (8/4), China justru meningkatkan tariff sebesar 125%. Menurut Trump, langkah tersebut merupakan keputusan yang tepat lantaran ia berpandangan bahwa China telah bersikap tidak adil dalam sistem perdagangan internasional.
Di samping itu, Trump mengeluarkan pengecualian terkait tarif sebesar 145% bagi produk-produk seperti ponsel cerdas, komputer, serta barang-barang elektronik lainnya yang berasal dari China. Pengecualian tersebut sangat membantu Apple karena proses produksi mereka masih banyak bergantung pada pasokan dari China.
US Customs and Border Protection telah mengeluarkan daftar tariff bebas dari pengenaan cukai impor. Penyebutan ini efektif secara retroaktiv dimulai tepat pukul 12:01 EDT pada hari Rabu, tanggal 5 April.
Ada 20 kelompok barang berbeda termasuk kode nomor 8471 yang meliputi seluruh jenis komputer, notebook, penyimpanan disk, serta sistem pengolahan informasi secara otomatis. Kode ini pun menjangkau elemen-elemen semikonduktorf, alat-alat, modul memorinya, hingga monitor tipis dengan bebas dari pajak balasan antarnegara.
Trump Kembali Memanaskan Tegangan Perang Dagang dengan China

Pertarungan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin memanas dengan peningkatan tarif impor terhadap produk-produk dari China hingga mencapai 245%. Meskipun ada keputusan untuk menangguhkan pengenaan tarif tersebut selama tiga bulan, namun ketentuan ini belum dapat diberlakukan pada China lantaran mereka belum melakukan upaya perundingan.
“Diatas 75 negara sudah berkomunikasi untuk mendiskusikan perjanjian dagang baru. Sebagai hasilnya, tarif yang lebih tinggi secara individu ditahan sementara selama pembicaraan tersebut, terkecuali bagi China, yang melancarkan langkah balasan,” demikian tertulis dalam pernyataan dari Gedung Putih pada hari Rabu (16/4).
“China saat ini terkena bea sampai dengan 245% pada produk impornya ke Amerika Serikat karena upayanya untuk membalas,” jelas dia.
Tentu saja China enggan mengambil jalan perundingan terkait tariff impor tersebut. Negara ini lebih memilih untuk merespons tindakan Trump dengan meningkatkan tariff impor atas seluruh produk Amerika Serikat dari angka awal sebesar 84% hingga mencapai 125%.
Berdasarkan informasi dari Kementerian Keuangan China, penegakan tariff yang sangat tinggi oleh Amerika Serikat terhadap Cina bertentangan dengan cara kerja sistem perdagangan global dan kebijakan ekonomi mereka, prinsip-prinsip ekonomi fundamental, serta tidak masuk akal menurut pandangan umum.
“Bila Amerika Serikat meneruskan pemberlakuan bea masuk tambahan pada produk-produk impor dari China menuju AS, China akan menyepelekannya,” demikian tertulis dalam pernyataan Departemen Keuangan Tiongkok yang berada di Beijing, seperti dilansir Breaking News.
Reuters
, Jumat (11/4).
Leave a Comment