Zenium dot ID
Tantangan yang diajukan oleh Ketua Ormas GRIB Jaya Jabar Gabryel Alexander Etwiorry untuk membahas masalah premanisme ditolak oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi mengatakan bahwa ia akan menggunakan seluruh energinya untuk menanggapi ucapan-ucapan itu.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Gabryel Alexander Etwiorry mengajak Dedi Mulyadi untuk membahas tentang pendirian Satuan Tugas Penumpas Premanisme.
Dodi menyatakan bahwa sekarang dia sedang berkonsentrasi pada pekerjaan untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh masyarakat Jawa Barat.
Dia tidak mampu mengatasi masalah-masalah individu secara bergantian.
“Penduduk Jawa Barat sangatlah besar. Tanggung jawab saya pada hari ini adalah melayani warganya,” terang Dedi Mulyadi di gedung Pakuan, Bandung, Rabu (16/4/2025).
“Bila semua individu perlu diberikan layanan secara terpisah, energi kita akan habis hanya untuk mendengarkan mereka berbicara,” jelasnya.
Politisi dari Partai Gerindra tersebut menjelaskan bahwa tugasnya adalah mengatasi permasalahan yang dialami oleh warga dan memastikan kesejahteraan mereka.
“Tujuan kami adalah mengwujudkan impian dari rakyat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi pun enggan ambil pusing atas berbagai tudingan di media sosial terkait kinerja dan kebijakannya.
“Bila seseorang menawarkan beragam hal di media sosial dan hanya disambut oleh netizen saja, bukan untukku,” ujarnya.
Berikut adalah inti perselisihan dalam perdebatan ini:
-
Dedi Mulyadi Soroti Premanisme
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebutkan bahwa total 27 kota dan kabupaten di Jabar secara bersamaan mendirikan Satuan Tugas Penyelamatan Anti-Premanisme.
Dedi menyatakan bahwa pembentukan satuan tugas tersebut bertujuan untuk mengatasi urgensi dalam memerangi aktivitas premanisme yang merugikan masyarakat serta menghalang-halangi perkembangan perekonomian.
“Tim satuan tugas ini berfokus pada perlindungan para petani, pedagang, guru, dan juga wirausahawan. Setiap lapisan masyarakat perlu dijaga agar terhindar dari aktivitas preman,” jelas Dedi dalam keterangan resminya yang dirilis kemarin, Jumat (27/3/2025).
Dedi mengkritisi fenomena pemerasan yang seringkali muncul di beragam bidang, dari jalan raya sampai area perindustrian.
“Di jalanan diajukan permintaan, di pasar ada permintaan, dan dalam industri juga dipermintakan, kita perlu mengatur hal tersebut,” ucapnya.
Dedi mengatakan bahwa area perindustrian merupakan salah satu daerah yang paling banyak merasakan dampak dari tindakan kekerasan dan penjajaan, terutama melalui praktik pemerasan yang dialami oleh para pengusaha serta pekerja.
“Jika hal ini terus dibiarkan, maka dapat mengurangi kemampuan kompetitif Jawa Barat sebagai salah satu kawasan investasi utama di dalam negeri serta berimbas pada penghilangan lapangan kerja bagi warga,” ungkap pria yang pernah menjadi Bupati Purwakarta tersebut.
Oleh karena itu, Satgas tidak hanya berperan untuk memberikan sanksi sesuai dengan undang-undang, tetapi juga harus memelihara kestabilan ekonomi di wilayah setempat. Dedi mengingatkan pentingnya bagi semua anggota Satgas untuk bersikap adil dan profesional saat melaksanakan tugas mereka.
“Pastikan pelaksanaan hukum dilakukan dengan adil, humanis, dan mengikuti peraturan tanpa ada diskriminasi,” tegasnya.
Tim Penanggulangan Premanisme meliputi beberapa komponen seperti Kepolisian Negara, Angkatan Bersenjata, Pasukan Militer Polisi, Lembaga Perserikatan Jaksa, Badan Intelijen Regional, Satuan Pengamanan Kota, dan sejumlah entitas pendamping tambahan.
Mereka memiliki tiga tanggung jawab utama yang terbagi menjadi empat sektor: pencegahan dan komunikasi masyarakat, inteligen, penegakan hukum, serta rehabilisasi. Satuan tugas ini bukanlah sementara.
Mereka akan terus meneruskan pekerjaan mereka menggunakan sistem pemantauan, penilaian, dan laporannya secara berkala.
Pemerintah setempat pun telah meresmikan beberapa saluran keluhan yang bisa digunakan oleh publik untuk menginformasikan tentang perilaku premanisme.
2. GRIB Jaya Jabar Menganggapnya Sebagai Sikap yang Cenderung Memihak
Menurut Ketua DPD GRIB Jaya Jabar Gabryel Alexander Etwiorry, sikap Dedi Mulyadi tentang premanisme dianggap terlalu berlebihan dan bersifat provokatif.
Ini berkaitan dengan pernyataan Dedi Mulyadi sebelumnya yang mengkritisi aktivitas premanisme dalam masyarakat, yang diduga dilancarkan oleh organisasi kemasyarakatan, dan hal tersebut bersifat cenderung memihak.
“Saya sebenarnya mendukung ideologi beliau, namun mari kita hindari bias. Mengapa selalu menyalahkan ormas ketika membicarakan mengenai kriminalitas?” ungkap Gabriyel dalam wawancara dengan Titik Temu Podcast tanggal 10 April 2025.
Menurut Gabryel, organisasi kemasyarakatan adalah warga negara yang perlu menjadi perhatian pemerintah.
Mereka berhak sama seperti warga negara Indonesia lainnya.
“Organisasi kita terdiri dari warga negara, memiliki hak untuk meraih pendidikan berkualitas, memperoleh lapangan kerja, serta menjamin masa depan dan kesejahteraannya. Kita semua setaraf, sebagai bagian dari masyarakat yang berhak atas kesempatan yang sama. Oleh karena itu, harap bantulah Gubernur Jawa Barat agar tidak bersikap partisan,” ujarnya.
Dia juga tidak keberatan apabila Dedi Mulyadi masih teguh dalam upayanya menghapuskan tindak pidana premanisme yang dilancarkan oleh sejumlah anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi kemasyarakatan.
Tetapi, sepertinya Dedi juga perlu bersikap adil dalam menghilangkan praktek kekerasan yang terjadi di lingkungan pemerintahannya sendiri.
“Saya baru saja mengapresiasinya,” ujarnya.
3. GRIB Jaya Ancam Membentuk Tim Khusus Anti-Preman di Lingkungan Birokrasi
Bukan hanya menyebut Dedi Mulyadi sebagai tendensius, Gabryel juga mencela keputusan Gubernur Jawa Barat tersebut yang berencana mendirikan satuan tugas (satgas) untuk membasmi preman.
Formasi tim khusus melawan perilaku premanistik merupakan tanggapan Dedi atas meningkatnya tindakan tekanan yang dijalankan oleh Organisasi Masyarakat (Ormas) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terhadap warga.
Gabriyel menilai semestinya Dedi Mulyadi melakukan ‘bersih-bersih’ di internal pemerintahan provinsi sebelum bergerak membasmi aksi premanisme di masyarakat.
“Saya minta maaf, jangan keluar dulu biar saya membersihkannya. Masuk ke dalam terlebih dahulu,” ujarnya ketika mengobrol di YouTube Titik Temu Podcast yang dirilis pada tanggal 10 April 2025.
Apabila Dedi terus mendirikan satuan tugas anti-premanisme bernama GRIB Jaya, maka Gabriyel pun mengatakan bahwa mereka juga akan membuat satuan tugas guna memberantas preman yang berada di dalam struktur pemerintah.
Menurut dia, tindakan premanisme juga berlangsung di Pemprov Jawa Barat.
Karena tim kita di GRIB juga akan membuat satuan tugas serupa untuk menghapuskan perilaku preman dalam birokrasi. Jadi, tidak semua pejabat itu baik. Bupati dan gubernur pun demikian, tidak semuanya tepat.
Oleh karena itu, mari kita tidak bersikap seperti hari ini, penjahat berkedok resmi ternyata hanya ada dalam ormas, maaf. Apakah di kantor pemerintah Provinsi Jawa Barat benar-benar tak memiliki penjahat serupa? Hanya saja mereka lebih terorganisir dengan baik; para penjahat yang menggunakan dasi namun melakukan kekerasan yang lebih parah. Mereka menghisap dana dari rakyat,” katanya.
Perihal serupa mengenai pembentukan tim tugas anti-premanisme dalam struktur birokrasi juga dibahas oleh Gabriyel selama pertemuan koordinasi wilayah GRIB Jaya Jawa Barat pada tanggal 11 April 2025 di Karawang.
Bila pemerintah mendirikan tim tugas untuk memberantas premanisme, seperti tim melawan mafia preman atau sejenisnya, kami di DPP dan DPD Grip Jaya pun akan membuat tim khusus lawan premanisme birokrasi.
“Bila kelak di provinsi atau kabupaten kota, sesama pemimpin DPC bertemu, dan ternyata ada pegawai birokrasi yang mencuri, serta penyelewengan dalam manajemen keuangan daerah diketahui, kami akan menjadi barisan pertama untuk menangani hal tersebut,” ujarnya.
Gabrielle Alexander Etwiorry secara resmi mengundang Dedi Mulyadi untuk berjumpa dan membahas masalah itu.
Beberapa bagian dari artikel ini sudah pernah ditampilkan sebelumnya di TribunJabar.id denganjudul tersebut.
Respons Dedi Mulyadi terkait tantangan diskusi dari Ketua GRIB Jaya Jabar: Penduduknya Sangat Banyak
>>>Perbarui berita terbaru di Googlenews Zenium dot ID
Leave a Comment