oleh Khafid Sirotudin *
Pada suatu hari, saya mengunjungi rumah salah satu Guru Besar dari PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, dahulunya PTAIN).
Keluarganya menempati sebuah rumah yang sederhana dengan tambahan ruang parkir tertutup yang bisa muat untuk satu kendaraan kecil.
Di area duduk ada lemari cukup luas memuat ribuan buku, naskah, dan majalah yang disusun dengan sedikit acak-acakan.
Di suatu sisi meja, masih tampak sebuah buku dengan halaman direntangkan pensil untuk mengganjelnya.
Menunjukkan bahwa si Professor kerap kali meminjam, membaca, lalu mengembalikannya kembali ke lemari perpustakaan miliknya.
Lanskap yang beragam kita saksikan saat berkunjung ke rumah sahabat, yaitu seorang Assoc. Prof. Doktor bidang Ekonomi dan pengajar dari PTS ternama. Hunian dialet letakkan dalam kawasan perumahan cukup mewah.
Para leluhur Jawa sering menyebutnya sebagai “Omah Loji” (rumah besar), tempat tinggal bagi pegawai pemerintah Belanda (Ambtenaren: petugas atau pejabat), pedagang, serta mereka yang kaya raya. Area ruang tamu dilengkapi dengan pendingin udara lengkap dan hiasan lukisan serta dekorasi bernilai tinggi seperti guci, cawan, gelas, dan barang-barang lain terbuat dari kaca dan keramik yang mudah retak.
Saya berharap yang terbaik dari dia karena memiliki perpustakaan pribadi di suatu sudut ruangan, walaupun saya tak sempat memandanginya saat lewat ruang tamu menuju kamar mandi.
Saya mengingat kembali pelajaran yang sering diajarkan oleh guru pengajian kita.
Apabila berkeinginan untuk memperoleh gambaran tentang diri seseorang, lakukanlah kedatangan mendadak dan mengunjungi ataupun bersilaturahmi di tempat tinggal mereka.
Periksa dan amati corak cat, kondisi depan rumah beserta area bermain di luar, ketinggian tembok pemisah, serta susunan furnitur yang ada.
Nikmati “aura” dari rumah bersama dengan “aruh”, “gupuh”, “lungguh”, dan “suguh” sang pemilik.
Dengan “membaca” suasana dan kondisi rumah, kita bisa mengerti “membaca” sebagian kebiasaan, rutinitas, serta kepribadian si pemilik rumah.
Penanda Peradaban
Perpustakaan menjadi indikator kecivilisan serta perkembangan sebuah negara.
Sebagai pusat perkumpulan ilmu, budaya, dan civilisasi.
Perpustakaan bertindak sebagai area publik yang bebas untuk semua orang dan memiliki peranan penting dalam memajukan pengetahuan, mengembangkan wawasan akademis, melestarikan warisan budaya, mensupport pengembangan sumber daya manusia, merangsang gairah membaca, menyokong aktivitas ilmiah, serta membantu dalam eksplorasi sejarah dan ide-ide para ahli.
Salah satu fungsi dari perpustakaan adalah berperan sebagai pendorong pergeseran sosial, pemajuan pembangunan, serta peningkatkan kearabayan dalam masyarakat.
Bermacam-macamm benda bersejarah, naskah kuno serta temuan-temuan yang mengungkapkan riwayat, ideologi, dan teknologi dari zaman dahulu bisa dicatat dalam format teks, dokumen digital, atau media fisik lainnya yang disimpan di perpustakaan.
Terlebih lagi dengan perkembangan teknologi informasi dan digital yang ada sekarang. Segala sesuatu bisa disimpan sebagai dokumen elektronik, mikrochip serta beragam alat digital lainnya.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa perpustakaan Ashurbanipal adalah yang terkuno di planet ini pada abad ke-7 Sebelum Masehi.
Perpustakaan besar Alexandria di Mesir merupakan salah satu dari perpustakaan paling luas dan berpengaruh pada masa kuno.
Perpustakaan itu kemudian menjadi bagian integral dari institusi riset terkemuka bernama Mouseion, yang diresmikan bagi para Muses, sembilan dewi seni.
Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda, yang didirikan pada tahun 1575, merupakan lokasi penting untuk kemajuan budaya dan penyebaran ilmu pengetahuan selama Era Renaisans Eropa.
Perpustakaan Universitas Leiden menyimpan Sejuta e-book, 40 ribu e-jurnal, 60 ribu manuskrip Barat dan Timur, Setengah Juta pesan, 100 ribu peta, 100 ribu cetakan, 12 ribu gambar dan 300 ribu foto dan puluhan ribu koleksi beberapa jenis benda bersejarah lainnya.
Perpustakaan ini menyimpan kumpulan buku terlengkap di planet bumi untuk studi tentang Indonesia dan Kepulauan Karibia.
Penduduk global mengakui ‘sejarah’ yang menunjukkan bahwa Koloni Belanda pernah menduduki dan menjajah Indonesia selama 350 tahun.
Majalah Soeara Moehammadijah yang pertama kali terbit 13 Agustus 1915 (sumber lain Januari 1915M, 1333H) dan puluhan edisi tahun pertamanya konon menjadi koleksinya.
Majalah Suara Muhammadiyah merupakan publikasi bersejarah tertua di Indonesia yang tetap menerbitkan edisi secara berkala tiap dua minggu sampai saat ini.
Para ahli yang berencana untuk menuntaskan disertasi doktoral (S3) dalam bidang ilmu Budaya Jawa pasti akan melaksanakan kajian pustaka demi memperkuat riset mereka di Perpustakaan Leiden.
Satu pekan usai hari raya idul fitri, masyarakat terkejut oleh dua insiden menyedihkan yang dilaporkan melalui media cetak, daring maupun elektronik. Salah satunya adalah kasus Profesor EM dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.
Kedua, kasus mengenai dokter residen anestesi dalam program PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) di Fakultas Kedokteran UNPAD.
Dua kasus yang masih terus ramai dibicarakan dan menjadi pembicaraan umum “ghibah” sampai saat artikel ini ditulis.
Kejadian kedua itu berhubungan dengan tindak pidana seksual yang dilakukan pada mahasiswi, pasien wanita, dan anggota keluarga pasiennya yang juga seorang wanita.
Saya mengingat kembali nasihat dari seorang wartawan televisi berpengalaman serta psikolog senior.
Beliau mengungkapkan bahwa “satu menit tontonan audio visual (video, film) yang berisi kekerasan dan konten dewasa, tak bisa ditiadakan oleh seribu kali pengajaran atau ceramah (audio, teks).”
Karena otak manusia cenderung lebih cepat menangkap dan mengenali hal-hal negatif dibandingkan dengan positif. Orang lebih condong untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri atau orang lain daripada berperilaku dan bertindak yang memberikan kebaikan.
Gagasan, pendirian, serta tingkah laku seseorang dalam lingkungan sosial amat terpengaruh oleh rutinitas membaca, mengamati, menyaksikan, mendengarkan, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dari sudut pandang perpustakaan, perilaku serta tindakan individu dapat dipengaruhi oleh berbagai media seperti materi bacaan (buku, kitab, jurnal, majalah, surat kabar), audio (suara, musik), dan visual (foto, video).
Saya menjadi curiga bahwa kumpulan buku sang Professor dan Resident Anesthesiologist mungkin mengandung banyak materi Pornografi. Bisa juga Handphone atau Laptop mereka dipenuhi dengan terlalu banyak file Gambar, Foto, dan Video yang tidak pantas.
Yogyakarta, 16 April 2025
*) Aktivis Literasi, Jurnalistik Warga.
Leave a Comment