ITNews

-Pemerintah menganggap bahwa dampak penyakit dengue pada masyarakat cenderung lebih berat daripada data yang telah direkam secara formal. Informasi tersebut dikemukakan oleh Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono saat menjadi pembicara utama dalam acara FGD bertingkat tinggi yang diadakan oleh Kaukus Kesehatan DPR RI, Senin (26/5).

Dante mengungkapkan dukungannya untuk memperbarui Strategi Nasional Penanggulangan Dengue (Stranas Dengue) sehingga dapat lebih sigap menyesuaikan dengan situasi saat ini.

“Ditemukan bahwa dampak dengue pada masyarakat cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan data yang ada di sistem saat ini. Karena itu, memperkuat metode pelacakan wabah yang sinkronisasi dan instannya akan jadi elemen krusial dalam perencanaan mendatang,” papar Dante.

Dia menggarisbawahi kebutuhan kolaborasi antar berbagai bidang guna meraih tujuan tanpa ada korban jiwa karena demam berdarah hingga tahun 2030. Hal ini termasuk dengan menyusun ulang taktik yang meliputi pengecekan awal, pengelolaan wabah, serta memanfaatkan terobosan baru seperti imunisasi dan teknologi Wolbachia.

Sepanjang tahun 2024, jumlah kasus demam berdarah mencapai 257.271 kasus dengan 1.461 meninggal dunia. Hingga tanggal 16 Mei 2025, sudah ada 56.269 kasus dengan 250 kematian yang meluas ke 456 kabupaten atau kota di seluruh negeri. Angka tersebut mengindikasikan bahwa sekitar 87% dari area Indonesia telah terpengaruh oleh wabah ini.

Ini menggerakkan DPR RI bersama mitra lintas sektor untuk memacu percepatan reformasi kebijakan. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menyatakan bahwa mendirikan Presidium Kaukus Kesehatan merupakan elemen dalam janji DPR mendorong program kesejahteraan bangsa.

“Kolaborasi antar berbagai sektor merupakan keharusan dalam mengatasi krisis demam berdarah yang sedang dihadapi Indonesia,” ungkap Cucun Ahmad Syamsurijal dengan tegas.

FGD tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi penting, termasuk penyusunan Strategi Nasional Terpadu untuk Demam Berdarah tahun 2026-2030, penerbitan Perpres terkait Pengendalian Demam Berdarah, serta perbaikan pada sistem laporannya yang didasarkan pada pendekatan regional.
real-time
Dan kecerdasan buatan (AI), serta penguatan akses terhadap vaksinasi dan teknologi Wolbachia.

Lainnya yang direkomendasikan meliputi pendirian dana khusus, berbagai skema pembiayaan baru, dan peningkatan peranan KOBAR Lawan Dengue dalam memfasilitasi kerja sama.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menegaskan kesetiaannya pada strategi pencegahan yang menyeluruh.

“Kami sangat mendukung inisiatif seperti Kobar Lawan Dengue yang menggerakkan kerja sama antar berbagai departemen untuk menciptakan strategi pengendalian demam berdarah yang lebih efektif,” ungkap Andreas Gutknecht.

Saat yang sama, Presiden Direktur PT Bio Farma Shadiq Akasya menganjurkan untuk memperkuat rasa kebersamaan guna mengatasi masalah demam berdarah.

“Bio Farma bertekad untuk tetap menjadi mitra yang proaktif dalam membantu mencegah dan mengontrol penyakit demam berdarah,” kata Andreas Gutknecht.

Koalisi Bersama (Kobar) Melawan Demam Berdarah adalah sebuah inisiatif kerja sama yang dimulai pada 2023 oleh Majelis Perwakilan Rakyat serta Departemen Kesehatan bersama beberapa mitra, bertujuan untuk mendukung tercapainya sasaran tanpa ada korban jiwa akibat demam berdarah hingga tahun 2030.

Kali ini FGD diikuti oleh perwakilan dari berbagai kementerian, organisasi profesional, masyarakat sipil, dan juga sektor swasta. Hal tersebut mencerminkan komitmennya secara bersama-sama untuk menyajikan solusi konkret terkait dengan ancaman demam berdarah yang semakin menyebar luas.

Tags:

Share:

Leave a Comment