TRIBUN-SULBAR.COM, MAJENE –

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Majene kini menolak untuk mengisi bensin bagi truk yang membawa limbah di Kabupaten Majene.

SPBU mengambil keputusan keras tersebut lantaran khawatir merugi apabila truk-truk pembuang limbah diberikan bahan bakar minyak secara gratis.

Pemerintah Kabupaten Majene yang dituangkan melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) diketahui memiliki hutang sebesar Rp 25 juta di SPBU.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Majene Inindria menyatakan bahwa mereka sudah memulai pembayaran cicilan utang BBM sebesar Rp 25 juta itu.

Akan tetapi, sampai sekarang utang itu belum lunas dikarenakan pembayarannya dilaksanakan secara bertahap dan sistem bonnya masih aktif terus menerus.

Kepala DLHK Majene, Inindria, menyatakan bahwa mereka masih diharuskan membayar utang setiap bulan guna pembelian bahan bakar minyak agar armada penjemput sampah dapat terus bekerja secara optimal.

Ini mengakibatkan jumlah hutang berkurang secara bertahap, tetapi belum sepenuhnya selesai.

“Memang kita telah membayar secara bertahap, namun belum tuntas. Kendalanya adalah kita masih perlu mencari tambahan dana karena anggaran untuk keperluan rutin belum mencukupi. Sehingga kewajiban terus mengular,” jelas Inindria ketika dihubungi Tribun-Sulbar.com melalui telpon pada hari Rabu, 16 April 2025 oleh Tribun Sulbar.com.

Menurut dia, walaupun DLHK mencoba untuk membayarnya secara bertahap, pihak SPBU mulai ragu-ragu dalam memberikan bon apabila besaran hutang dianggap sudah terlalu besar atau ketidakjelasan tentang kapan akan dilunasi.

“Kini SPBU menjadi lebih berhati-hati karena mereka membutuhkan kejelasan. Jika kita terlambat membayar atau utang semakin bertambah, mereka cemas akan merugi. Yang membuat kami kuatir adalah hal itu dapat menghentikan operasi armada jika bahan bakar tidak diberikan,” ucapnya.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Majene pada saat ini hanya mengendalikan enam kendaraan pembuang sampah yang masih berfungsi secara aktif dan harus digunakan setiap harinya guna menunjang pelayanan penjemputan sampah di kota Majene.

Inindria menginginkan adanya perhatian yang mendalam dari pihak pemerintahan setempat untuk menyelesaikan masalah pembayaran BBM dengan cepat, guna mempertahankan aliran layanan masyarakat yang lancar.

“Masalah ini lebih dari sekadar hutang; itu tentang kelangsungan penyediaan layanan. Jika armada berhenti, sampah dapat menumpuk dan hal tersebut akan berdampak pada masyarakat secara umum,” tegasnya.


Laporan oleh jurnalis dari Tribun-Sulbar.com, Anwar Wahab

Tags:

Share:

Leave a Comment