Zenium dot ID

– Banyak calon jemaah haji yang telah membayar lunas biaya, tapi akhirnya gagal keberangkatan disebabkan masalah kesehatan. Sebagai tindakan pencegahan atas situasi itu, Kementerian Agama menyusun sistem pergantian peserta untuk memastikan jumlah kuota tetap tercapai dan operasional grup tak tertunda.

“Apabila terdapat jamaah yang kurang sehat, mereka dapat langsung membatalkan perjalanan. Prosesnya akan kita lakukan dengan cepat. Jika waktu masih tersedia, posisi tersebut bisa digantikan oleh anggota keluarga atau pendamping,” ungkap Muhammad Zain, Direktur Layanan Haji Dalam Negeri Kementerian Agama, pada acara Bimtek PPIH di Asrama Haji Pondok Gede, Rabu malam (16/4).

Zain menyatakan bahwa prosedur pergantian dapat dijalankan bila masih ada cukup waktu, utamanya yang berkaitan dengan berkas-berkas serta pembuatan visa. Bagi jemaah disediakan alternatif antara melakukan pergantian dengan anggota keluarga atau menarik kembali deposit biaya ibadah haji mereka. Akan tetapi, jika batas waktu telah mendekati, tindak lanjut perubahan menjadi sukar untuk dieksekusi.

Pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa kesehatan merupakan elemen vital dalam memenuhi syarat istitha’ah. Zain mencatat bahwa banyak individu masih berpandangan sempit tentang istitha’ah sebagai hal yang berkaitan dengan aspek keuangan saja. Namun, faktanya, kapabilitas untuk melaksanakan ibadah baik secara jasmani maupun rohani sama-sama esensial.

“Pelaksanaan ibadah haji sekitar 90% terdiri dari kegiatan fisikal. Jemaah harus merawat kesejahteraan diri, mengatur asupan makanan, serta menyesuaikan mindset-nya karena cuaca di Arab Saudi sangatlah berlainan dibandingkan dengan kondisinya di Indonesia,” paparnya.

Temperatur di Mekkah dapat meningkat hingga 40 derajat Celsius, serta tingkat kelembapan yang rendah dapat mengakibatkan keletihan atau dehidrasi secara cepat. Oleh karena itu, para jamaah disarankan untuk bersiap-siap sebelum berangkat — mulai dari minum air secukupnya, mengonsumsi makanan bernutrisi, sampai menjaga pola pikir agar tetap tenang dan optimis.

Zain juga menyampaikan bahwa jemaah dengan riwayat penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau jantung harus konsultasi ke dokter dan membawa obat pribadi, serta tidak boleh putus konsumsi selama di Saudi. Petugas kesehatan akan membantu memantau kondisi tersebut selama perjalanan haji.

“Selalu kami tegaskan bahwa istitha’ah harus lengkap, tidak hanya membayar tagihan saja. Perlu kesehatan yang baik dari segi medis serta persiapan fisik dan mental,” jelas Zain dengan tegas.

Melalui prosedur pergantian yang transparan serta pendidikan mengenai signifikansinya persiapan medis, pihak berwenang optimistis bahwa para peziarah haji dari Indonesia dapat melaksanakan rite mereka secara selamat dan fokus pada tahun ini. Grup awal direncanakan untuk keberangkatan pada tanggal 2 Mei 2025, sementara itu calon peziarah diatur untuk memasuki akomodasi sejak tanggal 1 Mei 2025.

Tags:

Share:

Leave a Comment