BANARJARMASINPOST.COID – Pakar pendidikan dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Reja Pahlevi, mengakui bahwa Program Sekolah Rakyat yang diusulkan oleh pemerintahan pusat sebenarnya bertujuan dengan niat yang baik. Akan tetapi, ia berpendapat penting untuk menganalisis program tersebut secara lebih rinci guna mencegah terciptanya kesenjangan tambahan dalam jaringan pendidikan nasional.

Menurut Reja, tujuan utama dari program ini sebenarnya sangat baik yaitu untuk memperluas partisipasi dalam bidang pendidikan terlebih lagi bagi anak-anak kurang mampu serta orang-orang yang hidup di kemiskinan ekstrim. “Tujuannya cukup jelas, yakni menargetkan anak-anak yang berhenti sekolah akibat masalah finansial,” katanya, Rabu (16/4).

Tetapi di sisi lain, dia cemas tentang konsekuensi sosial yang mungkin terjadi di masa depan. “Harap jangan sampai program ini menciptakan kelompok baru dalam sistem pendidikan kita,” katanya.

Reja berkaitan dengan catatan pendidikan kolonial yang membagi siswa menurut status sosial dan etnis mereka. “Pada masa lalu, terdapat sekolah untuk keturunan Belanda, Tionghoa, serta pribumi. Jadi, Sekolah Rakyat tidak boleh lagi mereplikasi situasi tersebut, di mana anak-anak kurang mampu ditempatkan dalam program tersendiri yang terisolir dari sistem sekolah umum,” katanya.

Ia menekankan program tersebut bisa memunculkan stigma baru bahwa Sekolah Rakyat adalah “tempatnya anak-anak miskin”, sehingga bisa memperkuat eksklusi sosial. “Bisa jadi anak-anak dari program ini kesulitan diterima di masyarakat atau bahkan tersisih dalam sistem pendidikan lanjutan,” tambahnya.

Reja juga meragukan langkah pemerintah dalam mendirikan institusi pendidikan baru secara langsung menggunakan dana silang dari beberapa departemen, ketimbal meningkatkan program pendidikan yang telah ada. “Mengapa tidak menggunakannya sebagai sarana untuk menambah jumlah beasiswa atau memperkokoh sistem sekolah regular sehingga menjadi lebih inklusif?” tanyanya.

Dia menggarisbawahi bahwa banyak sekolah umum di wilayah tersebut tetap dalam kondisi hancur atau kurang memilikifasilitas esensial. “Hal ini menjadi pertanyaan besar. Di satu sisi, pemerintah mendirikan sekolah-sekolah baru, namun disisi lain, sejumlah sekolah yang sudah ada masih sangat tidak layak,” katanya dengan tegas.

Reza menggarisbawahi betapa krusialnya peran masyarakat di lingkungan pendidikan setempat dalam menjalankan program Sekolah Rakyat supaya masih bertumpu pada nilai-nilai keadilan serta kesamaan hak. “Tujuan dari pendidikan adalah untuk bersatu, tidak merancang pembatas,” katanya.

Di satu pihak, Reja juga menyatakan bahwa dia sedang menantikan bentuk kurikulum yang akan diimplementasikan di Sekolah Rakyat. Walaupun demikian, ia berharap agar tak terdapat perbedaan dalam hal mutu pendidikan, termasuk fasilitas dan metode pembelajarannya.

“Jika terjadi perbedaan, hal itu bisa menimbulkan masalah baru dengan munculnya diskriminasi serta persepsi bahwa kita akan kembali ke era kolonial,” katanya.

(Zenium dot ID/Muhammad Syaiful Riki)

Tags:

Share:

Leave a Comment