Zenium dot ID

Berikut ini adalah isi khotbah Jumat Agung tanggal 18 April 2025 dalam bahasa Jawa yang dipenuhi dengan kesaksian mendalam serta membawa pesan rohani yang menyentuh hati. Ini secara resmi diumumkan melalui situs web Greja Kristen Jawi Wetan (17/4/2025).

_______

ContohPidatoJumatAgungTahun2025

Salib Itu Tanda Cinta-Nya


Pambuka

Kapan sebetnya kita menghargai pendidikan? Ketika menyadari pentingnya ini, sering kali kita berkata “bangkit dari keterpurukan; selalu siap untuk belajar lagi; dan hal-hal lain semacam itu. Hari tersebut merupakan saat di mana perasaan yang belum terwujud dalam proses menjadi lebih jelas bagi mereka yang meremehkan keberadaannya. Orang-orang yang berpikir ‘terpesona’, pasti akan bangkit.

Seseorang yang sedang jatuh cinta, sepertiga hidupnya akan berusaha untuk mempertahankan cinta tersebut. Yang dicintai rumahnya besar, yang mencintai juga bahagia. Mereka merayakan kebersamaan dengan semua orang.

Berapakah jumlah hari antara Jumat Agung dan Minggu Paskah? Bagaimana pendapatmu tentang perbedaan ini dalam kalender saat ini bisa menjadi salah satu momen suci yang dinantikan setiap tahunnya? Ya, ini adalah periode yang ditetapkan secara resmi, besar, dan penting.

Namun, apakah kayu salib ini menjadi beban dan pilihan bagi Tuhan Yesus? Ya, salib tersebut dianggap sebagai tanggungan serta keputusan oleh Tuhan Yesus demi mengasihi dunia.


Isi

Awal karo, sawise kanggo urutake Yohanes 3:16, ora mudeng kalebu Gusti tumindak marang wong ithul iki gara-gara pengin nyuksep semuwa manusia. Nanging, badhe supaya kuwi sing ditimbang saka dhewe-dhewenya lan dijemput marang kesempatan utawa hubungan kanthikan Gusti, tanpa diselingkehi sabab liyane luwih sadurunge. Kula uga bisa njupuki atine mriksani hal pithik-piti saiki.

Namun, apakah jalan ini mudah ditempuh? Ataukah ini merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan kesulitan? Untuk mengatasi tantangan ini, mari kita memperhatikan Yesus sendiri, sumber kedamaian sejati, yang telah menempuh jalannya ke dalam kerohanian tersebut.

Yokanan menehi petunjuk babagan bagaimana ekuwis tiyang Yahudi sing satu mara-marah menjerumuskakeun Gusti Yesus, sareng nyari jalan biar Gusti Yesus bisa dihindarin lan disalahkeuneun dening salib. Namung kanggo wong iki, amarga dhewe uga rampes sadurungepen Tuladha lan tegeseh ngramekin, nalika wektukeun tetep njalma kuwi macem korban lan derita sanajan ora kedadeyan.

Wong iku pengin urip kudusan saking gusti, sampurna ora masuk dalem pendopo keraton, saat Gusti Yesus ditahan. Penabungane yaiku supaya ndhuwur kesuma kanggo nyapuh rituleta Paska, lan Pilatus sang penguasa sing diwonton kuwat marayarin perdebatan antar Yehuda jejer ana wong iki. Ditemtokake sawetara guru desa, menawa tetep teplas. Dheweke ping ping usaha utawa ngajadi kudu basahi, namun ugi mbentak minangka gusti Sawijining Kristus disalahkan.

Terdapat sedikit rasa kasihan dalam hati Pilatus ketika ia mengulangi perintahnya untuk yang ketiga kalinya kepada terpidana dengan kata-kata “jikalau kamu menaati permintaanku, orang itu tidak bersalah dari segala sesuatunya” (Ayat 38b, ayat 4, dan 6).

Namun, perbuatan tersebut sangat berbahaya dan tidak aman sebagai pemimpin negara karena banyak orang yang siap melapor ke Kaisar karena Pilatus telah menyalahkan orang itu. Meskipun para pembuat konspirasi ini setuju dengan apa yang mereka pikirkan bahwa semua orang akan bersaksi demi Tuhan Kristus jika dipaksakan, tetapi para pembuat konspirasi tersebut sebenarnya mematuhi hatinya sendiri. Dalam hati mereka, mereka mengatakan bahwa Yesus bukan pelaku kesalahan tersebut. Akan tetapi demikian, kaum Yahudi terus mendesak bahwa Yesus adalah Anak Allah, namun Pilatus berkata lain (ayat 7-8).

Namun, tindakan lunturnya Pontius Pilatus menghadapi tantangan besar yang mendorong penyalahgunaan oleh tentaranya untuk mencemooh dan mengejek Tuhan Yesus serta mempertegas kedudukan-Nya sebagai raja dengan melampirkan mahkota duri di atas kepala-Nya.

Apa yang diutarakan oleh Gusti Yesus ini menguatkan pesan dari Nabi Yesaya tentang hamba-hamba-Nya yang tidak setia dengan bentuk kekejian. Setelah Pilatus mendekati mereka dan menawarkan untuk membebaskan Gusti Yesus sebagai ganti eksekusi terhadap penjahat lainnya agar menghindari permusuhan massa, tetapi justru para pengikut Yahuda itu hanya berteriak “Salibkan! Salibkan!” di sekitar bangunan sidang tersebut.

Inilah ujian yang dihadapi oleh Tuhan Yesus dalam perjalanannya menuju kematian. Untuk mengatasi cobaan ini, Dia memilih untuk tegar. Mengapa Tuhan Yesus tetap kuat dan tidak menunjukkan rasa takut terhadap pengorbanan-Nya hingga kematiannya? Tidak demikian halnya karena melalui berbagai kesulitan besar tersebut, Tuhan Yesus dengan tabah melewati proses ini menjadi lebih sabar saat disalibkan sebagai korban.

Panjenangan Anda menghadapi warisan dengan hati yang percaya dan mantap dalam keyakinan bahwa ini adalah jalan yang benar. Warisan tersebut dihadapi tanpa rasa takut untuk mencapai kesempurnaan hidupnya sendiri, karena pendidikan dari sang pewaris telah membimbing mereka menuju kebaikan sejati.

Salib ini menunjukkan jalan yang penuh tantangan, berisi cobaan dan kesulitan yang tak mudah serta rumit. Namun, Tuhan Yesus menghadapinya dengan keyakinan sampai sempurna. Meskipun demikian, jalannya tetap terbuka bagi mereka yang mau mendengarkan pesan Anda.

Gusti Yesus adalah pribadi yang setia pada tugas-Nya sebagai Tuhan yang mengalami kesengsaraan karena menyelesaikan tujuan-Nya sesuai dengan rencana Allah secara utuh dan melampaui semua bentuk derita dalam hidup ini. Rencana penyelamatan dari Allah bertujuan untuk melepaskan manusia dari ked darkness, dosa, serta keterjatohan kasih sayang Tuhan. Kesulitan yang dialami oleh Gusti Yesus selama masa itu mencerminkan tekad yang lebih besar dan mulia, sehingga benar-benar menyempurnakan pembebasan dari segala hal buruk.

Mila, enggal saka orang sing udadha dadi setia annanya, ora kudu ngalami cedera sembah-sembahan kanthi buku Ibrani. Buku iki mbahas yen sawetara kanggo diganti supaya bisa menanggalkane salib Sawijining Kristus, Ratu Nya. Kala ndhuwur dhawuh, kadhunga yaiku pengampunan lan penyesalan babagan yen uga saking Gusti urip tanpa kuwat. Sapa wong utawi sanajan ipun Imam Madya njero-njeroni kesempeta tegese tiyang udadha diroso.

Pangeranmu juga adalah Raja yang mengaku dirinya dengan menyatakan kekuatan dan pandangan hidup manusia. Sebagai Imam Besar, Tuhan Yesus memimpin kami kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui Kebijaksanaannya yang hakiki untuk membimbing jiwa-jiwa. Dalam hal ini, umat Kristen selalu bersemangat dan setia dalam melayani diri mereka menuju keselamatan serta meniru Teladan Pribadi Putra Manusia.


Panutup

Kadospundi kaliyan kesepian kita bagaimana samangi? Apa penyebabnya, perbedaan dan hal-hal yang sulit dalam hubungan yang membuat kita bertengkar ini menjadi tantangan bagi kita untuk lewati bersama-sama?

Perayaan Jumat Agung mengingatkan kita bahwa Yesus, sang Raja penyelamat dunia, telah menegaskan komitmennya untuk menebus dosa-dosa kita melalui penderitaannya di kayu salib. Kayu salib ini menjadi simbol pengorbanan-Nya. Malaikat itu, dengan setia memandangi lambang salib tersebut dan membawa pesan penyelesaian kesempatan yang dibawakan oleh Tuhan.

Diskusi kita sering kali tidak disukai karena menghadapi perbedaan. Dengan memandangi Salib ini, kita harus merenungkan betapa hampa hidup tanpa cahaya.

Sarira dan Rahib Tuhan Yesus yang terpilih untuk memimpin perjalanan ini adalah tanda pengawalan dan komitmen bagi kami dalam berjalan di jalan kesucian bersama-sama dengan Sang Kristus.

Pramila, meskipun sulit untuk melewati ujian dengan kesetiaan di tengah masalah, mari kita terangi jalan kita dengan cahaya Sang Kristus.

Sudahkah Anda melewati jalan yang penuh tantangan dan kembali dengan setia, Anda juga harus berjanji untuk kembali bersama kami dan membelahan hidup kami.

Gesang merancang membebaskan orang yang tertindas dan terlunta-lunta seperti manusia yang dilahirkan oleh Tuhan Yesus. Sudah dihajar dan disiksa. Selalu berjalan dengan tegar serta melintasi batu-batu besar yang kasar.

Sering kali melihat simbol-Nya itu. Bagi Anda yang terkena penanda pada hari Jumat Agung ini, cahayanya mencakup semua orang yang berkomitmen.

Mari kita tetap percaya, bahwa kita tidak akan meninggalkan jalan yang sulit ini. Mari kita terus mencontohi Bpk./Ibu dengan kesetiaan dan keberanian, serta semangat ketabahan dan ketersediaan dalam menghadapi segala tantangan. Amin.


***

Artikel lainnya di

google news.

Ikuti dan bergabung disaluran

WhatsApp Tribunsumsel.

Tags:

Share:

Leave a Comment