Zenium dot ID
– Perasaan emosional menawan sosok bek muda Josip Stanišić ketika Bayern München gagal mencapai babak semifinal Liga Champions musim 2024/25 setelah dikalahkan oleh Inter Milan. Pemain tersebut tampak memukul salah satu anak lempar bola (ball boy).
Meski tertinggal 2-1 pada leg pertama perempat final, Harry Kane berhasil mencetak gol penyamaratakan skor dalam laga tersebut melalui tembakan spektakuler ke sudut gawang yang mengheningkan kerumunan suporter di Stadion Giuseppe Meazza, Kamis (17/4) pagi waktu Indonesia Bagian Barat.
Akan tetapi, dua gol cepat yang dicetak oleh Lautaro Martinez dan Benjamin Pavard pada setiap babak mengubah alur permainan demi keuntungan Inter. Tim tuan rumah pun lolos ke babak selanjutnya meskipun Eric Dier mencetak gol di menit ke-76 yang menyamakan skor terhadap gawang Yann Sommer.
Dengan hasil akumulatif 4-3, pemenang Serie A tersebut akan berlaga di fase semi-final menghadapi Barcelona yang telah mengalahkan Borussia Dortmund.
Akan tetapi, terlihat indikasi kekecewaan dari Bayern pasca perlawanan sengit melawan Inter. Stanisic kemungkinan selamat dari hukuman kartu kuning lantaran mencoba mendorong salah satu ball boy.
Bek sayap kanan dari Kroasia itu berpendapat bahwa ball boy tersebut menyia-nyiakan waktu sehingga Inter mendapatkan keuntungan dalam pertandingan. Ball boy itu dikucilkan dan dipaksa meninggalkan tempat duduknya di samping lapangan dengan kasar.
Banyak penikmat sepak bola menganggap bahwa Stanisic harus dikeluarkan dari permainan oleh wasit Slavko Vincic. Akan tetapi, pemain dengan usia 25 tahun itu tak menerima sanksi apa pun dan terus bertahan di lapangan hingga akhir laga yang berlangsung selama 90 menit.
Setelah pertandingan berakhir, Stanisic kemudian menyatakan dirinya cukup gegabah karena bertindak tak seperti seorang profesorional.
Setiap tim di seluruh dunia menyia-nyiakan waktu saat mereka unggul,” ujar Stanisic. “Saya agak ceroboh dengan hal tersebut.
Berdialog dengan pers segera setelah Bayern tereliminasi, sang juru taktik Vincent Kompany menyampaikan bahwa dirinya berpandangan timnya amat merindukan beberapa pilar utamanya tersebut.
Menurut Kompany, “Saya rasa kita telah menampilkan dua pertandingan yang hebat, baik itu kemarin Selasa maupun malam ini di tempat seperti Stadion Giuseppe Meazza. Tanpa adanya para pemain kunci seperti [Jamal] Musiala, [Dayot] Upamecano, [Manuel] Neuer, juga tanpa kehadiran [Kingsley] Coman dan dengan [Strahinja] Pavlovic belum mencapai performa terbaiknya.”
Menurut saya pada laga perdana kita sudah memperlihatkan performa baik dari Bayern Munich. Bukan soal skornya saja. Di partai kedua pula kita tunjukkan semangat positif saat bertandang ke Milan, dan sekarang kami merasakan optimisme tinggi serta mendapat dukungan besar dari suporter.
“Segala sesuatunya dimuali seperti yang kami harapkan, lalu terjadi dua titik penting tersebut, dan kamu perlu mengakui keunggulan Inter. Meskipun demikian, kita seharusnya dapat bermain lebih bagus lagi,” jelas sang pelatih dari Belgia itu.
Banyak kesempatan untuk mencetak gol kami miliki, melebihi jumlah yang dimiliki Inter.
“Saat ini perasaaan saya bercampur-aduk. Faktanya yang menyakitkan ialah kita tidak dapat bermain di partai final Liga Champions di depan pendukung sendiri,” tegasnya.
Leave a Comment