News IT–

M. Isa Ansori, pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, menyatakan dukungannya terhadap tindakan Pemerintah Kota Surabaya dalam mengatasi perilaku buruk remaja melalui program Kampung Anak Negeri (KANRI).

Namun demikian, ia tidak yakin tentang daya tahan manfaat program itu seiring waktu. Masing-masing anak yang terjerumus pada perilaku kriminal atau kekerasan merupakan hasil dari serangkaian faktor sosial yang rumit.

Dia menyatakan bahwa mereka adalah hasil dari keadaan miskin dan lingkungan terbengkalai yang memaksa orang untuk bekerja ekstra keras atau mencari jalur cepat, bukan karena ambisi menjadi pemimpin. Seharusnya mereka tak dilihat sebagai suatu permasalahan yang patut dikriminalisasi.

“Bila kita jujur, berapakah di antara para remaja ini sebenarnya telah mengalami perubahan sesudah mereka pulang ke rumah? Kepada keluarga yang tetap dalam kemiskinan, kepada lingkungan yang masih sulit, dan menuju masa depan yang tampaknya suram,” ungkap Ansori pada hari Sabtu (25/5).

Dia menyarankan agar Surabaya menerapkan konsep Youth Guarantee dari Finlandia. Ide ini berfokus pada penjaminan bahwa seluruh pemuda bukan hanya ditempatkan di penginapan, melainkan dididik dan diasah dalam lingkungan komunitas yang mendukung.

“Dengan demikian, pendekatan ini membantu pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh sambil memasukkan peran keluarga. Para orangtua akan hadir secara rutin guna berjumpa dengan buah hati mereka yang sedang menempuh pembelajaran di lokasi itu,” jelas Ansori.

Di bawah Youth Guarantee, pemerintah Finlandia mengusulkan adanya subsidi untuk biaya pendidikan, kursus keahlian, pembinaan oleh mentor, dan juga kesempatan magang di usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ataupun perusahaan yang dimiliki pemerintah setempat.

Di luar anak-anak, para orang tuanya pun akan diikutsertakan dalam program pelatihan pekerjaan singkat. Misalnya dengan belajar menjahit atau mengelas, sehingga mereka dapat memperoleh pemasukan ekstra tanpa perlu meninggalkan buah hati mereka.

“Bayangkan jika A meninggalkan asramanya setelah mendapatkan latihan perbaikan telepon genggam. Ibunya pun menerima pelatihan dalam pembuatan kue serta disediakan sedikit modal, tentu kesempatan mereka untuk meraih kehidupan yang lebih baik menjadi jauh lebih besar,” ungkap Isa Ansori.

Menurutnya, ide dari Youth Guarantee di Finlandia mirip dengan program Kampung Anak Negeri. Ia menginginkan agar Pemerintah Kota Surabaya tidak memandang KANRI sekadar sebagai lokasi untuk bimbingan, melainkan harus berkembang menjadi sebuah pusat komunitas.

“Area ini dapat dibuka bagi seluruh anak di lingkungan setempat tanpa diskriminasi atau stigmatisasi, serta berfungsi sebagai tempat edukasi non formal yang mencakup pelajaran komputer, bengkel kecil, hingga lapangan futsal. Penduduk lokal juga ikut serta dalam prosesnya,” jelas Ansori.

Sebagai contoh, Pemuda Karang Taruna serta ibu-ibu PKK dapat diberi pelatihan untuk berperan sebagai pengawas dan penasehat bagi anak-anak dalam wilayah mereka. Selain itu, Pemerintah Kota pun bisa mengajak perguruan tinggi bekerja sama sebagai pendukung dalam proses ini.

Selanjutnya, para pebisnis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) setempat dapat memberikan kesempatan magang. Sementara itu, pendanaan bisa didapatkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan serta Dana Desa. Proyek ini dapat diluncurkan secara bertahap di 1-2 daerah terlebih dahulu.

“Anak-anak bandel ini merupakan hasil dari putaran tak henti-hentinya cincin kemiskinan. Akan tetapi, cincin tersebut dapat dipecah. Kami bukan cuma menyediakan makanan untuk mereka, melainkan juga umpan pancing, tempat air, serta guru yang akan mendidiknya dalam seni memancing,” jelas Ansori.

Tags:

Share:

Leave a Comment