Zenium dot ID

Setelah insiden penyalahgunaan seksual melibatkan dokter anastesi penduduk di Bandung serta dokter kebidanan di Garut, masalah serupa muncul lagi. Dalam hal ini diperkirakan pelaku adalah seorang staf medis tidak bertanggung jawab dari Malang.

Pengalaman menyedihkan ini diceritakan oleh seorang pasien bernama samar QAR, 31 tahun, lewat Instagram pribadi mereka *@qorry***. Wanita yang berasal dari Bandung tersebut diyakini mengalami pelecehan seksual oleh petugas medis berinisial AY.

Hakim pengacara QAR, Satria Marwan mengatakan bahwa insiden pelecehan seksual yang dialami oleh kliennya terjadi pada tanggal 27 September 2022. Pada waktu tersebut, korban tengah menerima perawatan di sebuah rumah sakit swasta di Malang.

“dia pergi ke malang untuk liburan, lalu mengalami pusing akibat vertigo dan dia memilih berkunjung ke rumah sakit swasta terbaik versi google. disanalah korban bertemu pertama kalinya dengan sang dokter (ay),” jelas satria saat ditemui di malang pada rabu (16/4).

Ketika menerima perawatan di Instalasi Gawat Darurat, Dokter AY memintakan nomor telepon korban dengan alasan untuk mengirim hasil foto rontgen. Tapi yang terjadi adalah malah deretan pesan tidak relevan dikirim oleh AY.

“Bahasanya korban di-
spam chat
, di tempat tersebut korban tidak memberikan respons apa pun. Esok harinya, karena rasa sakitnya tak juga reda, ia kembali ke rumah sakit dan bersua sekali lagi dengan tenaga medis yang dimaksud (AY),” tambahnya.

Satria mengatakan bahwa korbannya dirawat selama tiga hari di ruang perawatan VIP rumah sakit swasta di Kota Malang. Ketika mencapai puncak insiden tersebut, AY mampir ke ruangan tempat korban berada yang saat itu seorang diri, seraya memegang stetoskop dan menggunakan pakaian santai.

“Ay tersebut tiba tanpa memakai jubah medis. Ia hanya berpakaian biasa. Setelah itu, sang dokter yang melakukan kejahatan itu menuntut korbannya untuk melepas pakaiannya, di mana pada saat itu korban sedang memakai busana pasien bertema stetoskop,” ungkap Satria.

AY selanjutnya melaksanakan pemeriksana menggunakan stetoskop. Namun, anehnya, proses tersebut tidak selesai dengan cepat dan bahkan sempat terhenti ketika AY beralasan untuk membalas pesanWhatsApp dari kawannya.

“Pelaku pada waktu tersebut diyakini korban tidak sedang membalas pesan, melainkan mengambil foto di area dada. Klien saya segera menutup baju dan berkata kepada dokter bahwa dia ingin beristirahat karena merasa letih,” jelasnya.

Sebagai akibat dari peristiwa menyedihkan itu, korban mengalami trauma parah sehingga enggan secara langsung melapor kepada pihak kepolisian. Barulah setelah tiga tahun lamanya, QAR mulai berani untuk bersuara.

Dengan demikian, korban tersebut sebelumnya merasakan ketakutan dan penyiksaan mental karena terus menahan hal ini selama hampir tiga tahun. Namun, setelah beberapa insiden serupa terjadi baru-baru ini, ia pada akhirnya berani untuk mengungkapkannya.
speak up
,” tukas Satria.

Tags:

Share:

Leave a Comment