Inilah kondisi mayat Murdaya Poo ketika dipamerkan di Ngaran Borobudur Magelang, masyarakat menolak proses kremasi, dan Bupati Grengseng Pamuji ikut campur untuk membantu mediasi.


Zenium dot ID, MAGELANG

Rencana pemakaman lewat proses kremasi untuk sang entrepreneur real estat terkenal, Murdaya Widyawimarta Poo, yang merupakan suami dari Siti Hartati Murdaya, telah menimbulkan protes dari beberapa penduduk Dusun Ngaran II, di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Mereka tidak setuju dengan pelaksanaan upacara pembakaran jenazah di sekitar area perumahan mereka, walaupun tempat yang ditentukan adalah tanah milik sendiri.

Jenazah Murdaya Poo pada masa kini dipugar di Vihara Griya Vipasana Avalokitesvara, yang berlokasi tak jauh dari Candi Mendut.

Rencana tersebut menunjukkan bahwa mayat pengelola Pondok Indah Mall itu bakal dikremasikan tanggal 7 Mei 2025 di atas tanah kepunyaan istrinya, Siti Hartati Murdaya, tepatnya di Dusun Ngaran II, tidak jauh dari Graha Padmasambawa. Upacara pengebumian telah dimulai sejak 14 April dan diperkirakan akan bertahan sampai dengan 6 Mei.

Protes dari penduduk mulai bermunculan setelah rencana itu diumumkan oleh Kepala Desa Ngaran I dan II, Maryoto, pasca pertemuan dengan Ketua DPD Walubi Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, tanggal 2 April kemarin. Sesuai penjelasan Maryoto, warganya secara langsung mengekspresikan ketidaksetujuannya.

“Warga tidak setuju dengan cara apa pun,” kata Maryoto saat mediasi berlangsung di Kantor Bupati Magelang, Rabu (16/4/2025).

Mediasi ini menghadirkan warga bersama perwakilan dari Walubi dan juga petugas Pemerintah Kabupaten Magelang.

Akan tetapi, perbincangan yang terjadi antara jam 13.30 dan 17.00 WIB belum menghasilkan suatu keputusan bersama.

Tanto Soegito menyatakan bahwa proses kremasi itu adalah keinginan dari pihak keluarga yang telah meninggal.

Dia memastikan bahwa proses tersebut akan dijalankan dengan penuh kekaguman, mengunakan tiang kayu cendana yang tingginya dua meter dan dikalungi bebatuan perlindungan untuk mencegah penyebaran api.

Di samping itu, akan tersedia tenda doa bagi para biksu dan jemaah Buddhis yang berkeinginan menyampaikan penghormatan akhir.

Tanto menerangkan bahwa tak terdapat rencana untuk membangun krematorium tetap di area itu.

Hasil kremasi Abu pun akan diambil oleh keluarga dan langsung dibawa ke Bogor, Jawa Barat.

“Tujuan kami adalah mengabulkan harapan keluarga. Acara ini bukan sekadar prosesi pembakaran jenazah biasa, melainkan merupakan bagian dari ritual Buddhisme yang suci, terbatas bagi para pemimpin agama ataupun biarawan,” paparnya sebagaimana dilaporkan Kompas.com.

Dia juga menyebutkan bahwa proses kremasi semacam itu telah dilaksanakan dua puluh tahun lalu di area Bukit Dagi, dalam kompleks Taman Wisata Borobudur, bagi jenazah Bhante Win, yang merupakan seorang pemuka agama Buddha.

Walaupun kesepakatan masih belum dicapai, Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menyampaikan apresiasinya atas tekad seluruh pihak yang telah berusaha berkumpul dan bernegosiasi bersama-sama.

Dia berharap diskusi akan tetap berlanjut dengan atmosfer penuh penghargaan satu sama lain.

“Jika belum tercapai kesepakatan, dengan rendah hati, marilah kita mencari waktu untuk berkumpul dan berdiskusi kembali,” ujar Grengseng seorang politikus dari PDIP.

Siapakah Murdaya Poo? Dia pernah menjajakan surat kabar saat masih anak-anak di Blitar, Jawa Timur, dan kemudian berhasil masuk dalam deretan orang terkaya di Indonesia dengan harta bersih mencapai 1,2 miliar dolar AS!


Berikut adalah profil dari Murdaya Widyawimarta Poo, sang suami dari Siti Hartati Murdaya, seorang entrepreneur terkemuka yang telah wafat pada tanggal 7 April 2025 di Singapura.

Murdaya Widyawimarta Poo, sang founder dari Central Cipta Murdaya, telah menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Senin, tanggal 7 April 2025, di Singapura.

Berita sedih tersebut awalnya dibagikan melalui akun Instagram resmi Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Jakarta.

Dewan Pengurus Pusat WALUBI menyatakan, “Seluruh anggota Dewan Pengurus Pusat Federasi Umat Buddha Indonesia ikut merasakan kesedihan akibat wafatnya Pak Murdaya Widyawimarta Poo. Mudah-mudahan amal bakti beliau selama hidup akan memperoleh kelahiran di Alam yang Berbahagia.” Demikian tertulis dalam pernyataannya.

Di samping itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, pun mengungkapkan kesedihan yang mendalam. Baginya, Murdaya Poo merupakan tokoh penting dalam kemajuan sektor mal di Tanah Air.

“Wawasan dan pemikiran dari alm. Pak Murdaya Poo akan terus jadi rujukan untuk pertumbuhan dan majuannya industri mal di Indonesia. Kami APPBI juga ikut merasakan kesedihan dengan kepergian beliau,” ungkap Alphonzus seperti yang dikabarkan.
Kompas.com
.

Alphonzus juga menggarisbawahi peran Murdaya lewat Pondok Indah Mall (PIM), yang menjadi salah satu aset utama dalam rangkaian usaha miliknya. “Pondok Indah Mall, tempat Saham Milik Murdaya, sudah lama berkontribusi pada perkembangan pusat belanja di Tanah Air,” jelas Alphonzus.


Mengenal Sosok Murdaya Poo

Murdaya Poo terkenal sebagai pebisnis handal dengan kekuatan signifikan dalam banyak bidang industri.

Terlahir di Blitar, Jawa Timur, pada tanggal 12 Januari 1946, Murdaya memulai kiprahnya dalam dunia usaha dengan menciptakan sebuah perusahaan yang merambah sektor teknik, informatika, kelapa sawit, serta triplek.

Keberuntungan Murdaya Poo, yang sempat terdaftar dengan nilai hingga US$ 1,2 miliar, menjadikannya berada di urutan ke-37 dalam jajaran orang paling kaya di Indonesia tahun 2022 versi tersebut.
Forbes
Pada bulan Maret tahun 2023, total kekayaannya masih bertahan pada jumlah sebelumnya.

Akan tetapi, jalan hidupnya tidak sehalus itu. Pada usia muda, Murdaya pernah berswasta menjual surat kabar guna memenuhi keperluan hidupnya.

Pada umur 26 tahun, yaitu di tahun 1972, dia mulai membangun perusahaan kontraktornya yang kemudian menjadi dasar keberhasilannya.

Perusahaan tersebut tumbuh menjadi PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) serta kelompok perusahaan Central Cipta Murdaya (CCM) di tahun 1984.

Murdaya terkenal pula karena mengubah wilayah Pondok Indah—yang awalnya adalah kebun kelapa sawit—menjadi salah satu daerah premium di Jakarta Selatan. Melalui pembentukan MKPI pada tanggal 29 Maret 1972, dia mengepalai berbagai pengembangan real estat skala besar tersebut.

Tahun 1992, Murdaya mengawali perjalanan Central Cipta Murdaya Group, sebuah grup bisnis yang merangkum banyak sektor industri seperti pengembangan Jakarta International Expo, salah satu kompleks konvensi terbesar di Jakarta.

Di samping itu, dia juga memegang sejumlah besar saham di Metropolitan Kentjana, sebuah perusahaan pengembangan real estat yang bertanggung jawab atas manajemen mal-mal serta kawasan perumahan seperti Pondok Indah Mall.


Pernah Aktif dalam Bidang Politik

Selain berkiprah dalam bidang bisnis, Murdaya Poo juga memiliki pengalaman di sektor politik. Ia mulai terlibat dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada tahun 1998. Kemudian, lima belas tahun setelah itu, tepatnya pada 2004, dia berhasil dipilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menggantikan daerah pemilihan Jakarta untuk masa jabatan 2004-2009.


Beberapa bagian dari artikel tersebut sudah pernah ditampilkan di Kontan.co.id dengan judul yang sama.
Meninjau Operasi Bisnis Multinasional Milik Murdaya Poo dari Dalam hingga Luar Negeri

Tags:

Share:

Leave a Comment