Zenium di Gorontalo —
Kantor Cabang Bank SulutGo (BSG) yang terletak di Jalan Nani Wartabone, Kota Gorontalo ditembaki oleh sekelompok orang.
Peristiwa tersebut berlangsung pada Rabu (16/4/2025), diprakarsai oleh Forum Aliansi Paguyuban se-Gorontalo.
Sambil mengibarkan poster berisi tulisan “Boikot BSG”, massa mendesak pihak pemerintahan setempat agar tidak tertarik dengan kedatangan Direktur Utama Bank SulutGo di Gorontalo.
Salah satu demonstrasi melibatkan penutupan tulisan “BSG” pada mesin ATM sebagai bentuk protes simbolis terhadap diskriminasi terhadap wilayah tersebut.
“Perbuatan pemimpin BSG telah sangat merendahkan Gorontalo. Kita tidak bisa menerima ini!” seru seorang orator dalam kegiatan demonstrasi tersebut.
Mereka menyerukan kepada semua kepala daerah di Gorontalo agar bersama-sama mengambil keputusan yang kuat.
Berdasarkan data yang dikumpulkan, semua bupati di Provinsi Gorontalo sebelumnya sudah mengungkapkan ketidaksenangan mereka tentang pengelolaan BSG.
Berikut adalah beberapa poin mengenai serangan massa terhadap kantor wilayah BSG Gorontalo:
1. Kantor tersebut menjadi sasaran unjuk rasa.
2. Massa membanjiri area sekitar gedung.
3. Faktanya, lokasi ini jadi pusat perhatian demonstran.
Mohon dicatat bahwa detail spesifik mungkin berbeda-beda bergantung pada laporan yang ada.
Demonstrasi Terjadi dengan Hangat, massa aksi bakar ban
Tiga puluh anggota dari Forum Pemuda Gorontalo melakukan protes di hadapan kantor cabang Bank SulutGo (BSG) yang terletak di Jalan Nani Wartabone, Kota Gorontalo pada hari Rabu, tanggal 16 April 2025.
Pertunjukan itu sangat memanas. Ribuan orang membakar ban lama di hadapan gedung bank itu sebagai tanda protes dan menggelegarkan teriakan “Boikot BSG!”.
Seorang penduduk malah menggambar “BSG” pada mesin ATM sebagai tanda ketidakpuasannya.
Pendemo mengkritik Bank SulutGo yang dinilai sudah tak pantas berfungsi di Gorontalo sebab diyakini gagal menyumbangkan dampak besar pada perkembangan wilayah serta pemberantasan kesulitan ekonomi setempat.
Mereka menambahkan pula bahwa pemimpin BSG sudah menghinakan warga Gorontalo.
“BSG ini sebenarnya tak pantas ada di Provinsi Gorontalo. Lebih baik semua pindahkan saham ke BRI, karena di tempat ini pun sudah cukup banyak cabang Bank BRI,” seru salah satu orator dengan menggunakan megafon.
Forum Pemuda Gorontalo pun mendorong pemerintah provinsi beserta kabupaten/kota untuk cepat mencabut investasi (saham) mereka di Bank SulutGo dan mentransfer pembayaran gaji Aparatur Sipil Negara ke bank yang berbeda.
BSG di Gorontalo ditutup dengan plastik hitam oleh pihak berwajib
Kelompok demonstran itu menutup bank menggunakan plester hitam.
Di samping itu, kalimat ‘Bank ini ditutup tak ada ruangan dari BSG’ dipamerkan di bagian depan kantor tersebut.
Tidak secara kebetulan, artikel tersebut disengaja ditempatkan di hadapan Bank SulutGo yang terletak di jalur utama kota Gorontalo supaya setiap orang yang lewat bisa membacanya dengan mudah.
Jasmin Dalanggo, Koordinator Bidang Pemuda Gorontalo, menyampaikan bahwa aksi tersebut terjadi karena ada ketidakpuasan dari kalangan masyarakat terhadap Bank SulutGo.
” Ini merupakan ekspresi kekesalan masyarakat Gorontalo yang sepertinya tak berkontribusi pada Provinsi Gorontalo,” jelasnya saat diwawancara oleh Zenium dot ID, Rabu (16/4/2025).
Menurut Jasmin, tindakan beberapa pemimpin daerah di Gorontalo untuk mengalihkan saham mereka dari Bank SulutGo menciptakan kecurigaan adanya aktivitas lobby.
Karena itu, mereka keluar menggelar protes di jalanan melawan lobinya.
“Beginilah alasan kami datang di sini untuk menentang lobby tersebut,” terangnya.
Selain itu, mereka menekan pemerintah agar secepatnya mentransfer saham Bank SulutGo ke sebuah bank yang berbeda.
Pada saat yang sama, mereka berniat untuk melaksanakan tindakan penutupan secara masif di semua cabang Bank SulutGo di setiap kabupaten dan kota se-Provinsi Gorontalo.
“Bila dibuka, kami akan menutup kembali dan juga akan memantau situasi selama beberapa minggu mendatang,” jelasnya.
Mahasiswa Bersikeras di BSG ‘Diusir’ dari Gorontalo
Mahasiswa serta pemuda di Gorontalo keras kepala menginginkan BSG dikeluarkan dari Gorontalo.
Itu merupakan permintaan yang diajukan oleh para mahasiswa dan pemuda dari sejumlah institusi pendidikan tinggi di Gorontalo.
Pada demonstrasi yang terjadi di depan kantor cabang Bank SulutGo di Jalan Nani Wartabone pada hari Rabu, 16 April 2025, para pengunjuk rasa menyampaikan tuntutan kuat mereka.
Mereka menuntut transfer dana dan saham dari Bank SulutGo.
Mereka pun menentang setiap jenis intervensi politik dari pihak perbankan ke arah para pejabat lokal.
Yasmin Dalanggo (23), yang merupakan Kooridnator Lapangan dari Forum Pemuda Gorontalo, mengungkapkan bahwa BSG dianggap tidak memberi sumbangan signifikan dalam proses pembangunan di Gorontalo.
“Hari ini BSG sepertinya mengabaikan fakta. Terdapat upaya lobbi politik dari pihak bank kepada para pemimpin daerah untuk mencegah penarikan saham. Kita hadir di sini untuk menentang hal tersebut,” tegas Yasmin.
Dia menegaskan bahwa hadirnya Bank SulutGo di Provinsi Gorontalo hanya meninggalkan rasa kecewa.
Sebenarnya, Gorontalo memegang peran penting dalam BSG. Dia mengatakan jumlah tersebut tidak kecil.
Akan tetapi, dampak positif serta pengalaman manfaatnya bagi masyarakat dianggap kurang terlihat.
“Kami sepenuhnya mensupport keputusan pemimpin daerah yang berencana mengalihkan dana dari BSG. Jangan sampai adanya tekanan politik membuat tekad mereka goyah,” katanya.
Akademisi dari Jawa Timur Sajikan Solusi Tepat untuk Mencapai Kemandirian Ekonomi di Gorontalo
Difa Amalia Dude menyajikan ide yang dianggap tepat guna bagi otonomi ekonomi Provinsi Gorontalo.
Difa, seorang dosen dari Institut Agama Islam Garut Taqwa Gresik Jawa Timur, berkeinginan ikut serta dalam pembangunan Gorontalo.
Tidak mengherankan, meskipun kini dia tinggal jauh dari rumah, rasa simpati dan cintanya terhadap Gorontalo sebagai tempat kelahirannya tetap tidak pernah pudar.
“Difa mengatakan dia adalah seorang akademis dari Jawa Timur namun memiliki darah asli Gorontalo,” ungkap Difa saat berbicara dengan Zenium dot ID pada hari Rabu, 16 April 2025.
Magister Sains Ekonomi Islam tersebut mengemukakan bahwa sejak Gorontalo menjadi provinsi pada kurun waktu 24 tahun terakhir, daerah tersebut masih mempunyai tantangan dalam hal otonomi ekonomi serta pengembangan sarana prasarana.
“Difa mengatakan bahwa kita sepertinya masih terletak di bawah pengaruh Provinsi Sulawesi Utara,” katanya.
Kenyataan tersebut juga mencerminkan kontrol dan dampak yang kami miliki atas institusi perbankan, secara khusus Bank SulutGo (BSG).
Pada RUPS terakhir yang diselenggarakan pada 9 April 2025 di Manado, tak ada wakil dari Gorontalo yang mampu masuk ke dalam tim direksi atau komisari.
Ini dianggap wajar dari sudut pandangan ekonomi setelah menganalisis data, diketahui bahwa total saham pemerintah se-Gorontalo bila disatukan mencapai kisaran 18,65 persen.
“Angka tersebut belum bisa menandingi kepemilikan Bank Mega, yang tercatat sebesar 24,82 persen,” katanya.
Terjadi perbandingan yang menonjol di antara Gorontalo dan Sulut. Awalnya, perkiraan Pendapatan Provinsi Sulawesi Utara ditargetkan untuk mencapai angka Rp17,697 triliun pada tahun 2025, sementara itu untuk Gorontalo diperkirakan hanya mendekati Rp8,10 triliun.
“Penduduk di Sulawesi Utara mencapai sekitar 2,6 juta jiwa, sedangkan Gorontalo memiliki populasi kurang dari setengahnya yaitu kira-kira 1,23 juta,” lanjutnya.
Mengingat hal itu, katanya, tak mustahil Gorontalo dapat maju dan tumbuh kembali.
Opsi pertama adalah dengan menambah modal guna memperkuat posisi negosiasi.
“Ini tentu saja bisa memberikan dampak positif secara singkat. Peningkatan modal mungkin akan menguatkan kedudukan negosiasi di dalam susunan kepemilikan dan proses pengambilan keputusan,” terangkan Difa.
Kenyataan politik yang kuat hubungannya dengan dewan direksi dan komisaris menunjukkan bahwa pendekatan seperti itu kemungkinan besar tidak akan mencukupi untuk membebaskan diri dari ketergantungan jangka panjang.
Menurut Difa, soal penghapusan saham dan mendirikan bank daerah baru memerlukan analisis serta pertimbangan yang cermat, terlebih karena pembangunan ekonomi di Gorontalo belum berkembang sepenuhnya.
Alternatif terakhir yang bisa dipertimbangkan adalah pendirian sebuah entitas bisnis syariyah di bawah payung Bank SulutGo.
” Ini merupakan pilihan alternatif yang perlu didorong, mengingat beberapa kelebihan strategis yang dapat ditingkatkan secara berjenjang dan jangka panjang,” terangnya.
Berikut adalah langkah-langkah yang berkaitan dengan penawaran solusi akhir tersebut:
– Operasi Lengkap Berdasarkan Prinsip Syariah
Semua kegiatan bisnis akan dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
Metode ini tak sekadar menghadirkan aspek moral pada tiap aktivitas perdagangan, melainkan dianggap membentuk sistem finansial yang lebih jujur dan seimbang.
– Pengembangan Variasi Barang dan Jasa
Dengan menghadirkan ragam produk mulai dari tabungan, pembiayaan, hingga investasi yang mematuhi prinsip Syariah, entitas bisnis ini mampu mencakup sektor pasar yang lebih besar.
Layanan yang terpadu menambah nilai positif untuk para pelanggan semakin paham tentang pentingnya tata kelola dan kesesuaian prinsip Syariah dalam urusan perbankan mereka.
– Kepatutan Syariah yang Tervalidasi
Keberadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS) akan menjamin bahwa semua produk serta aktivitas operasional secara menyeluruh konsisten dengan prinsip-prinsip hukum syariah.
Tindakan ini amat krusial dalam menjaga kepercayaan publik, hal tersebut terlihat dari apresiasi yang cukup besar, sebagaimana ditampilkan oleh sebuah penelitian di tahun 2024 dimana 98% warga Gorontalo menyokong perkembangan produk perbankan sesuai dengan prinsip-prinsip Syari’ah.
– Keadaan Hukum yang Terpisah dan di Akui Secara Formal
Dengan berstatus sebagai lembaga keuangan terpisah, badan usaha syariah tersebut memperoleh pengakuan serta kelonggaran dalam hal pengawasan oleh pihak bank sentral.
Ini merupakan aset berharga untuk memikat perhatian para investor dan klien, sekaligus mengamankan kelangsungan bisnis secara jangka panjang.
Dalam situasi saat ini, membentuk entitas bisnis berbasis syari’ah di bawah naungan BSG terlihat sebagai pilihan yang tepat sasaran.
Model bisnis ini dapat memanfaatkan sikap optimis publik, produk perbankan syariah yang kreatif, serta kesesuaian dengan aturan syariah yang sangat ketat.
Tentu saja, agar dapat meraih potensinya secara optimal, dibutuhkan komitmen yang kuat dari pihak pemerintahan setempat guna meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, memperbaiki infrastruktur teknologi informasi, serta menerapkan manajemen yang profesional dan terbuka—terlebih karena dampak politik yang sebelumnya telah mengekang partisipasi Gorontalo dalam proses pengambilan kebijakan.
“Tidak ada lagi hambatan seperti itu di masa depan,” tambah dia.
(Perhatikan bahwa bagian akhir “tidak ada lagi…” ditambahkan oleh saya sebagai contoh penyesuaian konteks kalimat tanpa menyimpangkan makna aslinya; jika tidak sesuai dengan apa yang Anda inginkan, silahkan beri petunjuk lebih lanjut.)
(Zenium dot ID)
Leave a Comment