Zenium dot ID

– Pertukaran mata uang crypto atau biasa disebut kripto secara keseluruhan menunjukkan peningkatan hijau selama seminggu terakhir. Nilai tukar Bitcoin yang pernah merosot hingga ke angka USD 75 ribu sudah pulih lagi dan kini berada di sekitar level USD 85 ribu serta tetap bergejolak di wilayah itu semenjak minggu kemarin.

Meskipun demikian, beberapa sentimen positif seperti pengendapan kebijakan tariff AS terutama bagi negara-negara yang tak mengenakan bea balas serta laporan indeks harga konsumen CPI bulan Maret yang melebihi harapan, belum cukup untuk memicu penguatan pasar berkelanjutan.

Meskipun begitu, sentimen-sentimen positif itu sukses mendorong Bitcoin untuk tetap berada pada tingkat harga sekarang meski menghadapi keraguan terkait situasi ekonomi mendatang.

Menanggapi situasi itu, Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menyebut bahwa minggu ini Bitcoin mungkin akan tetap berusaha menembusi garis tren sideway-nya. Jika hal ini terwujud, bisa jadi dorongan bagi peningkatan lebih lanjut hingga ke angka USD 95ribu.

“Akan tetapi, kemungkinan pengurangan dari tingkat saat ini hingga mencapai wilayah USD 74 ribu masih memungkinkan. Data penjualan eceran Amerika Serikat yang akan diluncurkan pada tanggal 16 April ini merupakan salah satu faktor yang ditunggu-tungi oleh para pemodal,” jelas Fahmi dalam laporannya.

Lanjutan dari pernyataannya adalah bahwa informasi yang bakal menggambarkan tingkat keyakinan konsumen di Amerika Serikat dalam menyongsong kebijakan ekonomi serta proyeksi masa mendatang bisa menunjukkan potensi ancaman resesi dan inflasi yang mempengaruhi perekonomian sekarang.

Fahmi mengatakan bahwa pembaruan data tentang pasokan uang M2 tanggal 22 April nanti juga akan menjadi faktor penting yang perlu diawasi oleh para investor.

“Sekarang, data M2 untuk bulan Februari yang dikeluarkan pada tanggal 25 Maret tercatat senilai $21.671 miliar dan ini adalah salah satu nilai tertingginyasepanjang sejarah. Peningkatan pasokan uang beredar yang berkelanjutan bisa memacu pertumbuhan aset-aset dengan risiko tinggi saat kondisi dinilai sudah lebih stabil,” tambahnya.

Sebaliknya, indeks DXY yang menilai kuat lemahnya dolar AS dibandingkan dengan beberapa jenis mata uang lainnya kini sedang berada di titik terendahnya sejak bulan April tahun 2022.

“Keadaan dollar Amerika Serikat yang menurun bisa mendorong para investor AS untuk beralih ke aset alternatif seperti Bitcoin serta altcoin lainnya yang memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar kuat. Hal ini tidak jarang menjadi indikator awal bahwa kita kemungkinan akan melihat lagi gelombang bullish dalam pasar kripto layaknya apa yang terjadi diakhir tahun 2017,” jelasnya.

Dalam kondisi saat ini, Fahmi menyarankan para investor agar jangan terlalu cemas tentang masa depan pasar kripto, karena berbagai petunjuk menunjukkan bahwa peluangnya tetap cukup kuat dan kemungkinan adanya penguatan signifikan pun masih sangat mungkin terjadi.

“Ukuran pasar cryptocurrency yang semakin bertambah besar sekarang ini pastinya membawa tantangan tambahan untuk para investor, terutama mereka yang baru mulai berinvestasi. Investor bisa mengikuti pergerakan pasar terbaru dengan menggunakan sumber informasi yang tepat dan mudah dipahami,” jelasnya.

Di samping itu, metode seperti rata-rata biaya dolar (dollar cost averaging/DCA) pun dapat digunakan, dimana investor menyimpan aset dengan cara teratur pada interval waktu tertentu contohnya tiap bulan, ini merupakan pilihan yang sangat menjanjikan untuk para investor baru.

Saat menjalankan strategi DCA, investor bisa menggunakan fasilitas yang membantu dalam menanamkan dana pada mata uang kripto dengan peluang pertumbuhan besar.

Tags:

Share:

Leave a Comment