Zenium dot ID

Pada masa disrupsi akibat perkembangan teknologi digital yang pesat, menghadapi krisis keuangan dunia dan inflasi yang semakin meningkat, Generasi Millennial terjebak dalam berbagai kesulitan finansial yang tidak pernah ditemui oleh generasi-generasi sebelum mereka.

Meski demikian, walaupun dunia telah mengalami perubahan, masih ada aspek penting yang tak lekang oleh waktu: pengetahuan dan pemahaman keuangan dari para pendahulu kita, terutama kelompok Generasi Baby Boomers berkualitas sedang.

Generasi Baby Boomers yang dilahirkan dari tahun 1946 sampai 1964, menjalani kehidupan pada periode ketika kestabilan cenderung lebih sering terjadi, namun itu bukan berarti mereka luput dari tantangan.

Sebaliknya, banyak di antara mereka berhasil menciptakan situasi keuangan yang stabil tidak berkat pendapatan tinggi, tetapi karena prinsip serta kebiasaan baik dalam mengatur uang.

Berdasarkan laporan dari Small Biz Technology pada hari Kamis (17/4), ada delapan nasihat keuangan dari kelompok Baby Boomers berpenghasilan sedang yang tetap aktual dan dapat memberikan inspirasi untuk Generasi Millennial:


1. Hidup Di Bawah Batas Kemampuan, Bukan Menyesuaikan Dengan Gaya Hidup

Satu hal penting yang dipelajari oleh Generasi Baby Boom adalah nilai kehidupan yang sederhana.

Mereka bukan tipe orang yang mengincar prestise ataupun kehidupan bergaya mewah seperti yang kerap ditunjukkan melalui media sosial.

Mereka justru lebih memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan.

Banyak di antaranya lebih memilih tempat tinggal sederhana, alat transportasi praktis, serta waktu istirahat yang ekonomis.

Prinsip ini mencegah mereka terjebak dalam jaringan hutang konsumtif yang saat ini melilit banyak orang Generasi Millennial.

“Bila memungkinkan, belilah sesuatu secara tunai. Jika belum sanggup, artinya waktu pembeliannya belum tiba.” – Pandangan Baby Boomer pada umumnya.


2. Menabung Adalah Kebutuhan Utama, Bukan Sekadar Sisa

Pada masa sebelum adanya investasi digital dan aplikasi manajemen finansial, generasi Baby Boom telah mengadopsi konsep “bayar diri sendiri lebih dulu.”

Mereka mengalokasikan dana saat pertama kali menerima gaji untuk disimpan, bukannya menantikan apa yang tersisa di penghujung bulan.

Keunikan ini—yang sekarang kerap diabaikan—merupakan dasar dari kebebasan ekonomi.

Meskipun tidak memiliki hasil investasi yang besar, kedisiplinan dalam menyimpan uang dapat membentuk tabungan darurat, dana pension, hingga modal untuk bisnis.


3. Tidak Menjadi Tergantung pada Kehidupan Serba Cepat

Baby Boomer tumbuh tanpa kemewahan serba cepat.

Mereka sudah biasa untuk bersabar, mengumpulkan uang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memboyong benda berharga seperti rumah ataupun kendaraan.

Tidak ada budaya “beli sekarang, bayar nanti”.

Milenials berkembang dalam zaman cepat—dompet elektronik, pinjaman daring, dan layanan beli sekarang bayar kemudian.

Namun, bila berharap agar kondisi menjadi seimbang layaknya masa lalu ketika melihat kedua orangtua kita, maka perlu bagi kita untuk merefleksikan kembali tentang keuangan yang sabar serta memuliakan proses tersebut.


4. Nilai Keuangan Terkait dengan Usaha keras

Generasi Baby Boomer menyadari bahwa uang berasal dari usaha dan kerja keras, bukan dari ketenaran singkat atau nasib baik semata-mata.

Mereka merintis karir secara bertahap, naik pangkat dengan pelan, serta selalu tekun dalam berkarir.

Hal ini membentuk rasa bertanggung jawab terhadap pendapatan yang mereka peroleh—hal yang sering hilang di tengah budaya “kaya cepat” saat ini.

Pemuda harus mengerti bahwa kestabilan lebih berharga daripada kesenangan sebentar yang tampak mencolok.


5. Kecukupan Dana Darurat serta Perlindungan Asuransi

Walaupun pendidikan finansial dulunya tidak serumit saat ini, banyak anggota generasi Baby Boomers yang dengan insting mendahului dan menyediakan dana darurat.

Mereka sangat menyadari bahwa kehidupan tidak selalu mudah—ada kalanya terjadi pemutusan hubungan kerja, penyakit, atau pengeluaran darurat yang tak terduga.

Mereka pun tak sungkan untuk mengambil polis asuransi dasar semacam perlindungan kesehatan dan jiwa.

Untuk generasi milenial, materi ini amat vital pada masa dengan fluktuasi ekonomi tidak menentu dan biaya perawatan kesehatan yang semakin melambung.


6. Hidup Mandiri dengan Ketergantungan Minimal atas Bantuan

Banyak orang generasi Baby Boomers berpenghasilan menengah yang merintis kehidupan dari awal tanpa apa-apa.

Mereka tidak mengandalkan warisan, relasi, atau bantuan dari orang tua.

Hal ini menumbuhkan sikap bertanggung jawab dan mental tahan banting.

Milenials harus mengatur antara keistimewaan dan usaha ekstra.

Walaupun bantuan tersebut positif, hindarilah agar tidak mengurangi semangat kemandirian.


7. Berinvestasilah Mengikuti Prinsip, Bukan Berdasarkan Emosi

Walaupun kesempatan berinvestasi terbatas pada masa mereka, generasi Baby Boom biasanya membuat keputusan finansial dengan cara yang hati-hati namun stabil.

Mereka memilih untuk menanamkan uangnya di sektor properti, logam mulia, atau produk investasi jangka panjang lainnya—tanpa terpengaruh oleh fluktuasi pasar.

Pemuda yang sudah terbiasa dengan dunia saham, cryptocurrency, serta investasi digital dapat belajar soal kepentingan memahami resiko, tidak mudah terpengaruh oleh tren, dan memiliki target yang tegas.


8. Merencanakan Persiapan Pensiun Sejak Usia Muda

Banyak orang generasi Baby Boomers dapat menjalani hari pensiunnya dengan damai tidak hanya berkat pendapatan besar, melainkan karena persiapan finansial sejak dini.

Mereka mengerti kalau waktu bekerja ada batasnya, dan hidup pasca pensiun masih butuh uang.

Generasi milenial yang lebih condong ke arah “menikmati hidup di saat ini” harus mulai memindahkan pandangan mereka: masa depan takkan secara otomatis menjadi terang jika tanpa perencanaan yang baik semenjak masih muda.

Kesimpulan: Bukan Masalah Waktu, Tetapi Masalah Prinsip

Tepat sekali, generasi Milenial bertumbuh dalam suatu zaman yang lebih mahal, perubahan yang kian pesat, serta dipenuhi dengan berbagai rintangan.

Akan tetapi, pengalaman dari generasi Baby Boomers tidak berfokus pada pencerminan kembali masa lalu, melainkan lebih kepada mengekstrak prinsip-prinsip fundamentalnya dan menerapkan hal tersebut ke dalam situasi saat ini.

Hidup secara sederhana, menyisihkan uang dengan kedisiplinan, mengurangi kenikmatan sesaat, serta mempersiapkan kehidupan di kemudian hari merupakan prinsip-prinsip yang berlaku bagi semua usia dan masih sangat aktual—bahkan bisa dibilang menjadi lebih esensial pada era saat ini.

Apabila generasi Milenial berhasil menyatukan ide-ide kreatifnya dengan pengetahuan keuangan dari Baby Boomers, maka masa depan ekonomi yang solid dan makmur tak hanya sebatas khayalan.

***

Tags:

Share:

Leave a Comment