Zenium dot ID

Kemampuan mengenali, merasakan, serta menanggapi emosi seseorang dengan kesadaran akan kemanusiaannya disebut empatis.

Dalam interaksi sosial, empati merupakan dasar vital yang menguatkan ikatan, kepercayaan, serta pemahaman bersama.

Tetapi, tidak semua orang memiliki itu, atau memutuskan untuk menggunakan yang tersebut.

Di bidang psikologi, kekurangan rasa empati biasanya berhubungan dengan cara berpikir yang hanya mengutamakan diri sendiri, beberapa jenis disfungsi kepribadian, serta pengalaman traumatis di masa lampau.

Seseorang yang tak memiliki belas kasihan sama sekali dapat memperlihatkan tindakan gangguan, menyakitkan, atau malah penipuan, tanpa merasa berdosa sedikitpun.

Berdasarkan laporan dari Small Biz Technology pada hari Kamis (17/4), ada 7 perilaku umum yang ditunjukkan oleh individu yang kurang memiliki rasa empati terhadap sesama, sebagaimana ditemukan dalam studi psikologis tersebut:


1. Mereka Mengabaikan Kesan Terhadap orang lain

Orang yang kurang memiliki rasa empati biasanya menilai perasaan oranglain itu remeh.

Bila seseorang menyatakan perasaan kesedihan, ketakutan, atau frustasi, mereka akan menjawab dengan frase berikut:

“Kamu terlalu sensitif.”

“Itu bukan masalah besar.”

Hanya kau saja yang merasakan begitu.

Sebaliknya dari memahami atau mendengarkan, mereka malahan mengabaikan atau meremehkan pengalaman emosional orang lain.

Hal ini menyebabkan lawan bicara merasa kurang diterima dan tak terakui.


2. Mereka Kesulitan untuk Mengalami Rasa Bersalah atau Penyesalan

Seseorang yang memiliki rasa empati akan merasakan penyesalan apabila menimbulkan kesedihan pada pihak lain, termasuk bila hal itu terjadi tanpa disadari.

Tetapi untuk orang-orang yang kurang memiliki empati, rasa bersalah hampir tidak pernah timbul—even dalam keadaan yang secara jelas menimbulkan kesedihan.

Berdasarkan ilmu psikologi, hal itu mungkin disebabkan oleh kurangnya kemampuan untuk “memahami sudut pandang pihak lain”.

Mereka hanya mengamati kehidupan dengan lensa diri sendiri dan tak dapat menyadari dampak tindakan mereka terhadap perasaan orang lain.


3. Seringkali mereka mengecoh dan mempergunakan orang lain

Kekurangan simpati seringkali merupakan tanda dari tingkah laku yang menipu.

Mereka mengerti cara merayu perasaan orang lain, tetapi bukan berarti mereka prihatin—malah lebih kepada penggunaannya demi untung diri sendiri.

Contohnya:

Mengubah kenyataan agar seseorang menjadi merasa bertanggung jawab.

Memanfaatkan kerentanan emosi seseorang untuk mempengaruhi kondisi yang ada.

Berpura-pura prihatin untuk memperoleh suatu hal.

Pada bidang psikologi, hal tersebut umumnya terlihat pada orang yang memiliki ciri-ciri narsistik atau antisosial.


4. Mereka Gagal Melakukan Pendengaran Aktif (Atau Enggan Mempraktikkannya)

Mendengarkan dengan saksama memerlukan konsentrasi total, interaksi visual, serta tanggapan yang mencerminkan minat dan simpati.

Akan tetapi, individu yang tak mempunyai rasa belas kasih kerap kali:

Memotong pembicaraan.

Menyoroti kembali pada diri mereka sendiri.

Acuhkan kisah oranglain.

Untuk mereka, berbicara tidak tentang pemahaman, tetapi hanyalah peluang untuk mengungkapkan pendapatnya.


5. Mereka Lebih Suka Menilai daripada Berusaha Memahami

Alih-alih berusaha untuk memahami alasan di balik tindakan orang lain, mereka dengan cepat menyimpulkan dan langsung menetapkanlabel.

“Dia pemalas.”

“Dia lemah.”

“Itu salahnya sendiri.”

Tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain menyebabkan mereka dengan cepat menilai tanpa mempertimbangkan situasi, pengalaman masa lalu, atau cedera emosional yang mungkin dihadapi seseorang.


6. Mereka Tidak Terpengaruh Oleh Kebahagiaan Atau Penderitaan oranglain

Seseorang yang memiliki rasa empati dapat ikut meneteskan air mata ketika menonton film yang menggetarkan hati, ataupun merasakan kesedihan saat mendengar berita duka dari pihak lain.

Di sisi lain, individu yang kurang memiliki rasa belas kasihan mengungkapkan reaksi yang acuh tak acuh bahkan terhadap kejadian-kejadian yang menyedihkan.

Mereka bisa saja menjawab, “Itu bukan tanggung jawabku” atau “Biarkan berjalan terus, ya sudah,” sambil tidak memperlihatkan tanda-tanda keterlibatan sama sekali.

Bahkan beberapa orang mungkin merasa terganggu dengan perlu berpura-pura tertarik.


7. Mereka Kesulitan Menjalin Relasiyang Sinceras dan Berlangsung Panjang

Relasi yang baik mengharuskan adanya rasa empaty.

Tanpa mampu mengenali serta membalas perasaan pasangan, sahabat, atau kerabat, ikatan tersebut bakal tampak hampa dan tidak berimbang.

Orang yang kurang empati biasanya menghadapi beberapa hal berikut:

Perselisihan terus menerus disebabkan oleh kegagalan dalam menyadari sudut pandang pihak lain.

Hubungan yang tidak dalam dan mudah hancur.

Kesepian hati, walaupun berada di tengah kerumunan.

Mereka mungkin terlihat memukau pada awalnya, namun lama kelamaan hubungan itu jadi membosankan dan membuat orang lain merasa tidak dimengerti atau diabaikan.

Kesimpulan: Empati Dapat Diajarkan, Namun Tak Semua Orang Bersedia Belajar Tentangnya

Sangat penting untuk ditekankan bahwa rasa empati tidak hanya datang secara alamiah, tetapi juga dapat dipelajari dan dibentuk melalui berbagai macam pengalaman hidup, introspeksi diri, serta dengan keinginan yang murni untuk mengerti perasaan orang lain.

Tetapi, tidak semua orang mau melakukan ini.

Sebagian orang terlanjur tenggelam dalam egoisme, luka masa lalunya, atau cara berpikir yang menghambat kapabilitas mereka untuk prihatin atas kondisi orang lain.

Apabila Anda mengalami kejadian sering bertemu dengan tipe orang tersebut, maka perlu memahami hal-hal berikut:

Menetapkan batas yang sehat.

Jangan mengambil kesalahan untuk perlakuannya terhadapmu.

Mengutamakan kesehatan emosionalmu.

Pada dasarnya, empati tidak sekadar tentang memahami orang lain, tetapi juga tentang menghargai diri sendiri.

***

Tags:

Share:

Leave a Comment